Selamat datang di forum Chevan Lovers, fans Evan Sanders & Chelsea Olivia
 
IndeksIndeks  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 CVL

Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4 ... 14 ... 25  Next
PengirimMessage
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: CVL   Sun 11 Nov 2018 - 11:38

First topic message reminder :

TELAGA KASIH CHEVAN


Berawal dari sinetron Antara Cinta dan Dusta (ACdD), Evan Sanders dan Chelsea Olivia Wijaya dipertemukan. Chemistry Evan Sanders dan Chelsea Olivia (CHEVAN) membius kami. Usia mereka yang terpaut jauh membuat chemistry itu menarik dan unik. Chelsea yang masih belia, bisa mengimbangi Evan yang sudah dewasa, sehingga kami tidak bosan melihat acting mereka yang natural. Setelah disinetron ACdD, mereka dipersatukan lagi di sinetron Cinta Sejati...bagi fans CHEVAN, tentu sampai detik ini masih mengharap Chevan segera bersatu lagi dalam satu project... sambil nunggu Chevan bersatu lagi, yuk fans CHEVAN komen di sini... pasti nunggunya lebih seru!


Twitter Evan Sanders: @evansaders_id

Twitter Chelase Olivia: @chelseaolivia92


instagram Evan Sanders: https://www.instagram.com/iam.evansanders/?hl=id

instagram Chelsea Olivia: https://www.instagram.com/chelseaoliviaa/?hl=id


Terakhir diubah oleh Nila tanggal Sat 8 Dec 2018 - 7:15, total 4 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net

PengirimMessage
Mia

avatar

Posts : 4125
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 13 Nov 2018 - 12:27

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Mia

avatar

Posts : 4125
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 13 Nov 2018 - 12:51


ROBIN (2)

Robin, Aku pulang dengan lebih santai, setelah melihatmu. Setelah bertemu denganmu rasanya ada yang lega di hati ini. Entah apa itu aku tidak tahu. Aku menganggapnya kita akan baik-baik saja, meskipun nanti kita akan berpisah dan memilih orang lain yang akan mendampingi hidup kita. Kita akan tetap bersaudara, bersahabat. Takkan ada rindu yang menyiksa. Semua kan baik-baik saja. Akhirnya kuterima lamaran Mas Doni. Bapak sangat senang dengan keputusanku. Sementara Ibu tetap meyakinkanku.
“Kau tidak salah mengambil keputusan ini. Robin tak pernah berjanji menikahimu kan?” Kata Ibuk, pertanyaan retoriis yang tak memerlukan jawaban dariku. Aku tak tahu mengapa ibuk berkata seperti itu. Dan hari pertunangan telah ditentukan. Aku tidak memberitahumu, ketika kau ke rumah malam itu. Kau tampak berbeda. Atau aku yang menganggapmu berbeda? Atau aku sudah masuk pada perangkap cintaku sendiri. Melihatmu , tak seperti ketika kau datang ke rumah sebelum - sebelumnya. Padahal waktu yang kita lalui lebih dari tiga tahun.
“ Kamu kenapa? Kamu sakit?” Aku tergagap, kata “Kamu” pada satu kalimat pertanyaan itu bukan lagi dari yunior pada seniornya. Bukan dari Dik Robin pada mbak Rin. Tapi sebuah pertanyaan dari seorang laki-laki dewasa pada wanita yang dihawatirkannya.
“ Hai...” Katamu lagi lebih mendekat . Aku menggeleng
“Tdak apa-apa.” Jawabku.
“Bener??”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya kau puas dengan anggukanku. Entah apa lagi yang kita bicarakan malam itu. Yang pasti aku merasa malam itu malam yang berbeda . Aku lebih senang memandangmu. Aku telah menemukan banyak hal yang tak bisa kuungkapkan padamu.

Hari pertunaganku tiba, aku tidak memberi tahumu. Aku kejam kan Robin? Kau tahu mengapa aku tidak memberitahumu? Sebelumnya aku begitu yakin akan membertitahumu dengan kemenanganku ,bahwa aku akan bertunangan. Aku akan menikah. Kau harus membantuku untuk kelancarannya. Tapi semua itu tak kulakukan. Aku tak membertahumu, bahkan aku tak menyampaikan apapun padamu. Ternyata ada ketakutan yang besar padamu. Aku takut ketika memberitahumu kau tak kan lagi menemuiku. Aku takut. Dan takut.
Dan akhirnya kau memdengar juga pertunagan itu. Kau datang dua hari setelah pertunaganku di malam hari. Malam yang dingin. Kau datang dengan wajah dingin pula wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Wajah kecewa, sinar mata kemurungan tampak jelas di wajahmu.
“ Benar , Rin? Kau bertunangan?” Tanyamu dengan lemah, tak bergairah. Aku mengangguk sambil menunduk. Tiba-tiba akupun merasa bersalah.
“ Mengapa kau lakukan? Apa kau...?” lanjutmu menatapku tajam. Kemudian kau menunduk lama sekali. Kemudian kau mencakar rambutmu. Tapi yang sakit hatiku. Kemudian kita dalam diam dan diam.
“Ternyata aku benar-benar kehilangan.” Suaramu memecah kesunyian, kemudian kau berdiri dan mengulurkan tangamu.Tangan yang dingin dan bergetar menggenggam tangan ku.
“Selamat!selamat! semoga kau bahagia.”
“Akhirnya aku kehilangan.” Satu kalimat lagi menggores hatiku. Kunikmati kata-katamu dengan sesak di dada. Kemudian kau mengambil kunci motormu. Air putih kesukaanmu tidak kau sentuh. Kau berdiri sambil manarik nafas.
“Aku pulang .”Katamu lemah. Kau berdiri sebentar memandangku , kemudian kau belalu dengan langkah gontai. Dan saat itu pula separuh jiwaku ikut denganmu.

Robin! Kalau kau sakit malam itu, aku yang lebih sakit. Kalau aku bisa bicara ingin kutanyakan, kita tak pernah berjanji untuk hidup bersama. Kita tak pernah berikrar menjadi kekasih . Kau hanya mengangapku kakak. Aku hanya idolamu. Aku hanya temanmu yang memberi senyum dan tawa kedamaian .Mengapa wajahmu seperti kekasih yang dihianati Setelah kuambil keputusan itu? Mengapa pula semua perhatian sayangmu padaku baru kusadari sejak malam itu. Setelah kuambil keputusan itu?
“Ini, kau bilang kertas lipatnya habis. Besok kan harus kamu pake di sekolah .” Katamu, menyerahkan kertas lipat origami .Aku terkejut waktu itu tapi gembira, karena aku memang kehabisan kertas itu dan belum sempat membelinya. Kau datang malam hari setelah sepi semua tertidur. Mungkin jam 11 malam.
“ Trims ya. Kok kamu tahu?”
“Ya tahulah. Udah masuk,lanjut tidurmu.” Katamu sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Akupun ikut melambaikan tangan.
Ternyata hal yang tak kuhiraukan menjadi kenangan terindah bagiku. Robin, kita juga pernah menembus hujan deras karena aku mau . Waktu itu kita pulang kuliah dan di tengah perjalanan tiba-tiba hujan mengguyur kita.
“Berteduh dulu” Katamu, sambil mengurangi laju motormu.
“ Ga usah. Terobos saja. “ Pintaku.
“ Terobos? Basah kuyup kita”
“Tanggung. Kita sudah basah. Ayo terobos.” Pintaku.
Kau Langsung ngegas motormu, menembus hujan lebat.
“ Asik juga hujan-hujanan” Katamu sambil tertawa.
“Dibilangin apa?. Anak kecil suka ujan-ujana”
“Siapa anak kecil?”
“Kamu.”
“Anak besar juga suka.”
“Siapa?”
“Kamu .’ kemudian kita tertawa bersama.
Robin. Setelah keputusan itu aku menmikirkanmu, selalu memikirkanmu. Mengingat kembli masa-masa kita bersama. Kehadiran Mas Doni di malam Minggu, tak mampu menggantikan kerinduanku padamu. Setiap hari aku semakin merindukanmu . Aku sering berdiri di depan pintu, melihat pohon mangga. Tempat motormu parkir di sana. Tapi tak ada lagi motormu. Pohon mangga itu menjadi saksi , betapa aku merindukanmu. Hingga suatu malam kau benar-benar tidak pergi dari pelupuk mataku. Apa yang kulakukan? Aku hanya menangis dan menangis. Aku tak bisa tidur semalaman aku menangis sampai pagi merindukanmu. Mengapa di saat harus yakin berpisah, ternyata sangat membutuhkan. Dalam keadaan seperti itu pagi-pagi kau datang. Aku terkejut bahagia. Apa itu “Kontak batin?” aku tak tahu. Kau menatapku sendu.
“Kau habis menangis?’ tanyamu cemas. Tapi aku tak menjawab. Biarlah keadaanku yang menjelaskan padamu bahwa aku dalam kerinduan yang sangat. Padamu padamu Robin.
“Jangan difikir. Nanti kau sakit. Kulihat tubuhmu makin kurus.” Kualihkan kata-katamu, bukankah kau telah tahu keadaaku.
“Kau tidak kerja?’
“Kerja ke sini dulu.” Kemudian kau mengambil sesuatu dari balik jaketmu.
“Majalah ini memuat tokoh idolamu.” Aku mengambil majalah itu. Ah Robin, dalam keadaan seperti ini kau masih ingat idolaku. Ingat majalah kesukaanku. Majalah yang sering memuat tulisanku . Bukankah aku telah menyakitimu?
Aku membuka lembar-demi lembar majalah itu. Kau memperhatikan aku. Kadang mata kita bertemu. Dan kemudian kita diam. Mungkin hanya hati kita yang bicara. Kemuadian kau mengambil kuci motormu.
“Aku berangkat.” Katamu. Aku kaget. Aku ingin menahanmu agar tidak berangkat, ingin mengatakan sesuatu . Tapi aku tak bisa. Aku hanya berusaha tersenyum. Kau pun tersenyum memandangku. Mata kita bertemu. Ada gejolak di hati ini. Sinar matamu seakan berkata, “ Mengapa kau bohongi dirimu, bahwa sebenarnya kita saling cinta.” Akhirnya aku menund uk, air mata yang mengambang kutahan agar tak jatuh di depanmu.
“Kau harus tetap ke sini. “ pintaku, dan airmataku tak bisa bisa kutahan lagi.
“Kini sudah lain, aku tidak sebebas dulu. Kau ada yang punya.”
“Tapi, aku....”
“Oke! Jawabmu, menghentikan kalimatku. Kau berdiri dan mendekat, tanganmu terulur mengahapus air mataku.
“Jangan menangis lagi. Nanti kau sakit. “Pintamu lemah ,membuaat air mataku makin tak terbendung. Aku mnganguk tak melihatmu.
“Berangkatlah.” Lanjutku

Robin , Ternyata aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Pertunanganku dengan Mas Doni tak bisa kupertahankan. Aku tak ingin membohonginya. Jadi seperti aku menerima pinangannya, akupun memutuskan pertunangan itu. Aku sendiri datang ke Mas Doni untuk memutuskannya tanpa musyawarah dengan Ibuk dan Bapak. Mas Doni terlalu baik untuk kubohongi bahwa sebenarnya hatiku untukmu. Mas Doni sebenarnya keberatan keputusanku bahkan dia bersedia menungguku sampai aku mau menerimanya. Tapi aku tetap pada pendirianku. Aku membatalkan pertunangan itu. Mendengar keputusanku Bapak marah besar , bahakan karena marahnya aku diusrir dari rumah. Bagiku wajar , aku memahaminya. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk itu semua. Beberapa bulan berikutnya ibuk sakit. Awalnya sesak tapi diagnosa berikutnya ibuk sakit jantung. Dan kemudian ibu di panggil lebih dulu oleh Allah menghadapNya. Aku tak pernah menghubungkan sakit ibu dengan keputusanku. Mekipun aku sangat sedih dan terpukul dengan kepergian ibuk, sku tak pernah menghubungkannya dengan keputusanku. Aku rasa Allah tel;ah menyiapkan jalan yang terbaik bagi umatnya dengan peristiwa yang kadang suliit diiterima.
Robin, Malam makin larut. Suara televisi tak terdengar lagi. Mungkin Bapak sudah tidur. Rasanya kantukkupun hilang. Kaupun malam ini mungkin sudah tertidur lelap. Oh, ya mengapa malam ini aku ingat padamu? Tadi di Surabaya kulihat kantor Pusat tempat kerjamu. Dulu kau pernah mengajakku untuk ikut ke kantor pusatmu. Aku setuju.Kebetulan hari yang kau sebut aku sedang libur. Aku sempat bingung akan memakai baju apa waktu itu. Pergi ke luar kota denganmu ,meskipun aku bukan pacarmu setidaknya aku berpenampilan menarik, agar kau tidak malu berjalan disampingku. Lagi pula kau sangat sensitif terhadap penampilanku.
“Wah, kamu cantik pake baju itu.” Atau kau akan cemmberut , “Jangan pake baju itu gak pantes.” Itu komentarmu. Aku ingat sekali.
Tapi nasibku sial, pada hari kita seharusnya ke Surabaya aku sakit. Aku demam, dan kedua kakiku tak bisa digerakkan. Entahlah apa nama penyakit itu. Sampai sekarang ,aku tak pernah membahasnya lagi. Pagi-pagi sekali kau datang, langsung masuk ke kamarku. Kau berpenampilan rapi, kulihat kau tampan sekali. Aku tersenyum melihatmu. Dengan reflek aku hendak bangun. Tapi kau menggeleng.
“Ga usah bangun. Aku mengerti, aku takkkan menyentuhmu.” Suaramu tenang duduk di samping ranjangku , melihatku khawatir.
“Maaf, aku tak bisa ikut.”
“Tidak apa-apa, lain kali saja.” “Sakit apa?”
“Kakiku tak bis digerakkan.”
“ Loh gak bisa digerakkan gimana? Sudah ke dokter?”
“Belum.”
“Ayok kuantar ke dokter dulu.”
“Ga usah ,kamu kan mau berangkat, nanti saj bareng Bapak.”
Kau diam sejenak, kemudian melangkah ke luar. Beberapa lama kau kembali lagi. Dengan membawa sesuatu di tanganmu.
“Coba kau gunakan ini, mungkin bisa membantu.” Sebuah alat pijat reflesi ,bentuknya kecil. Kemudian kau meletakkannya di samping bantalku.
“Aku berangkat,ya.” Katamu beberapa saat kemudian. Aku mengangguk,.
“Hati-hati”
Kuperhatikan punggungmu ketika kau melangkah ke luar kamarku, lalu kemudan kau diam sejenak dan kembali menghampiriku sambil tersenyum...
“Kau mau oleh-oleh apa?”
“Mau oleh-oleh kamu selamat sampai di sini” jawabku sambil tersenyum. Kulihatair mukamu berubah cerah dan kau lebih mendekati aku, walaupun tak kau lakukan apa-apa, kau hanya tersenyum memandangku lebih dekat ,’”Ok, aku berangkat ya.”
Robin, seandainya kita sudah berikrar menjadi kekasih, mungkin kau akan mencium keningku. Untuk menghilankan kekhawatiranmu. Tapi meskipun tak kau lakukan apap-apa kau telah memberi perhatian lebih dari seorang kekasih. Kau tak pernah menyentuhku, karena kau kau memang sangat menghormatiku.
Sepulang dari Surabaya, kau langsung ke kamarku...
“Ini oleh-olehnya,aku selamat sampai di sini jadi aku gak pulang dulu.”
“Alhamdulillah. Kau selamat.” Jawabku, Kulihat tubuhmu yang lelah karena memang perjalanan jauh.
“Kau sudah baikan, kan?” Tanyamu melihat aku sudah bisa menggerakkan kakiku.
“Sudah.”
“Alat itu bisa membantumu?”
“Sebenarnya bisa, tapi tidak kugunakan.”
“Kenapa?”
“ Takut sakit”
“Kau memang penakut” Katamu tertawa. Kemudian kau berdiri mengambil bungkusan dari ranselmu. Dan malam itu Ibuk, dek Ziko ikut nimbrung di kamarku ,bercengkrama bersama.. Kau seakan tak lelah sehingga kau masih bercerita panjang perjalananmu di kamarku. Oh.. waktu itu.
Robin, adikku, saudaraku, kekasih hatiku. Malam ini mungkin kau sudah tertidur lelap. Atau kau tiba-tiba terjaga, karena namamu selalu kusebut. Selamat malam Robin! Semoga kau bahagia selalu bersama keluargamu . Biarlah kehilanganku, cintaku, kisahku menjadi lukisan indah dalam perjalan hidupku. Masih banyak yang harus dikerjakan di dunia ini, hingga akhir kehidupan kita.
Selamat malam Robin! Terima kasih kau pernah hadiir dalam hidupku!





Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 13 Nov 2018 - 15:37

Mia wrote:
Nila wrote:
Mia wrote:


Main sulap apaan sih NYOLL?. coba bikin aku ga ngantuk kan makin seru. bounce bounce


wah masih seperti dulu ya suka tidur

Klo sudah ga suka tidur berarti aku udah PARAHH!!! :tertawa:

jangan sampai ya neng
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 13 Nov 2018 - 15:39

Mia wrote:

ikutan ah

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 13 Nov 2018 - 15:42

[quote="Mia"]
ROBIN (2)

Robin, Aku pulang dengan lebih santai, setelah melihatmu. Setelah bertemu denganmu rasanya ada yang lega di hati ini. Entah apa itu aku tidak tahu. Aku menganggapnya kita akan baik-baik saja, meskipun nanti kita akan berpisah dan memilih orang lain yang akan mendampingi hidup kita. Kita akan tetap bersaudara, bersahabat. Takkan ada rindu yang menyiksa. Semua kan baik-baik saja.  Akhirnya kuterima  lamaran Mas Doni. Bapak sangat senang dengan keputusanku. Sementara Ibu tetap meyakinkanku.
“Kau tidak salah mengambil keputusan ini. Robin tak pernah  berjanji menikahimu kan?” Kata Ibuk, pertanyaan retoriis yang tak memerlukan jawaban dariku. Aku tak tahu mengapa ibuk berkata seperti itu. Dan hari pertunangan telah ditentukan. Aku tidak memberitahumu, ketika kau ke rumah malam itu. Kau tampak berbeda. Atau aku yang menganggapmu berbeda? Atau aku sudah masuk pada perangkap cintaku sendiri. Melihatmu , tak seperti ketika kau  datang ke rumah  sebelum - sebelumnya. Padahal waktu yang kita lalui lebih dari tiga tahun.
“ Kamu kenapa? Kamu sakit?” Aku tergagap,  kata “Kamu” pada satu kalimat pertanyaan itu bukan lagi dari yunior pada seniornya. Bukan dari Dik Robin pada mbak Rin. Tapi sebuah pertanyaan dari seorang laki-laki dewasa pada wanita yang dihawatirkannya.
“ Hai...” Katamu lagi lebih mendekat . Aku menggeleng
“Tdak apa-apa.” Jawabku.
“Bener??”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya kau  puas dengan  anggukanku. Entah apa lagi yang kita bicarakan malam itu. Yang pasti aku merasa malam itu  malam yang berbeda . Aku lebih senang memandangmu. Aku telah menemukan banyak hal yang tak bisa kuungkapkan padamu.

Hari pertunaganku tiba, aku tidak memberi tahumu. Aku kejam kan Robin?  Kau tahu mengapa aku tidak memberitahumu? Sebelumnya aku begitu yakin akan  membertitahumu dengan kemenanganku ,bahwa aku akan bertunangan. Aku akan menikah. Kau harus membantuku untuk kelancarannya. Tapi semua itu tak kulakukan. Aku tak membertahumu, bahkan aku tak menyampaikan apapun padamu.  Ternyata ada ketakutan yang besar padamu. Aku takut ketika memberitahumu kau  tak  kan lagi menemuiku. Aku takut. Dan takut.
  Dan akhirnya kau memdengar juga pertunagan itu. Kau datang dua hari setelah pertunaganku di malam hari. Malam yang dingin. Kau datang  dengan wajah dingin pula wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Wajah kecewa, sinar mata kemurungan tampak jelas di wajahmu.
“ Benar , Rin? Kau bertunangan?”  Tanyamu dengan lemah, tak bergairah. Aku mengangguk  sambil menunduk. Tiba-tiba akupun merasa bersalah.
“ Mengapa kau lakukan? Apa kau...?” lanjutmu menatapku tajam. Kemudian kau menunduk lama sekali. Kemudian kau mencakar rambutmu. Tapi yang sakit hatiku. Kemudian kita dalam diam dan diam.
“Ternyata aku benar-benar kehilangan.” Suaramu memecah kesunyian, kemudian kau berdiri dan mengulurkan tangamu.Tangan yang dingin dan bergetar menggenggam tangan ku.
“Selamat!selamat! semoga kau bahagia.”
“Akhirnya aku kehilangan.” Satu kalimat lagi  menggores hatiku. Kunikmati  kata-katamu dengan  sesak di dada.  Kemudian kau mengambil kunci motormu. Air putih kesukaanmu tidak kau sentuh. Kau berdiri sambil manarik nafas.
“Aku pulang .”Katamu lemah. Kau berdiri sebentar memandangku , kemudian kau belalu dengan langkah gontai. Dan saat itu pula  separuh jiwaku ikut denganmu.

Robin!  Kalau kau sakit malam itu, aku yang lebih sakit. Kalau aku bisa bicara ingin kutanyakan, kita tak pernah  berjanji untuk hidup bersama. Kita tak pernah berikrar menjadi kekasih . Kau hanya mengangapku kakak. Aku hanya idolamu. Aku hanya temanmu yang memberi senyum dan tawa kedamaian .Mengapa wajahmu seperti kekasih yang dihianati  Setelah kuambil keputusan itu?  Mengapa pula semua perhatian sayangmu padaku baru kusadari sejak malam itu. Setelah kuambil keputusan itu?
“Ini, kau bilang kertas lipatnya habis. Besok kan harus kamu pake di sekolah .”  Katamu, menyerahkan kertas lipat origami .Aku terkejut waktu itu tapi gembira, karena aku memang kehabisan kertas itu dan belum sempat membelinya. Kau datang malam hari  setelah sepi semua tertidur. Mungkin jam 11 malam.
“ Trims ya. Kok kamu tahu?”
“Ya tahulah.  Udah masuk,lanjut tidurmu.” Katamu sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Akupun ikut melambaikan tangan.
Ternyata hal yang tak kuhiraukan menjadi kenangan terindah bagiku.  Robin, kita juga  pernah menembus hujan deras karena aku mau . Waktu itu kita pulang kuliah  dan di tengah perjalanan tiba-tiba hujan mengguyur kita.
“Berteduh dulu” Katamu, sambil mengurangi laju  motormu.
“ Ga usah. Terobos saja. “ Pintaku.
“ Terobos? Basah kuyup kita”
“Tanggung. Kita sudah basah.  Ayo terobos.” Pintaku.
Kau Langsung ngegas  motormu, menembus hujan lebat.
“ Asik juga hujan-hujanan” Katamu sambil tertawa.
“Dibilangin apa?. Anak kecil suka ujan-ujana”
“Siapa anak kecil?”
“Kamu.”
“Anak besar juga suka.”
“Siapa?”
“Kamu .’ kemudian kita tertawa bersama.  
Robin. Setelah keputusan itu aku menmikirkanmu, selalu memikirkanmu. Mengingat kembli masa-masa kita bersama. Kehadiran Mas Doni di malam Minggu, tak mampu menggantikan kerinduanku padamu. Setiap hari aku semakin merindukanmu . Aku sering berdiri di depan pintu, melihat pohon mangga. Tempat  motormu parkir di sana. Tapi tak ada lagi motormu. Pohon mangga itu menjadi saksi , betapa aku merindukanmu. Hingga suatu malam kau benar-benar tidak pergi dari pelupuk mataku. Apa yang kulakukan? Aku hanya menangis dan menangis. Aku tak bisa tidur semalaman aku menangis sampai pagi  merindukanmu.  Mengapa di saat harus yakin berpisah, ternyata sangat membutuhkan. Dalam keadaan seperti itu  pagi-pagi kau datang.  Aku terkejut bahagia. Apa itu “Kontak batin?” aku tak tahu. Kau menatapku sendu.
“Kau habis menangis?’  tanyamu cemas. Tapi aku tak menjawab. Biarlah keadaanku yang menjelaskan padamu bahwa aku  dalam kerinduan yang sangat. Padamu padamu Robin.
“Jangan  difikir. Nanti kau sakit. Kulihat tubuhmu makin kurus.”  Kualihkan kata-katamu, bukankah kau telah tahu keadaaku.
“Kau tidak kerja?’
“Kerja ke sini dulu.” Kemudian kau mengambil sesuatu dari  balik jaketmu.
“Majalah ini memuat tokoh  idolamu.” Aku mengambil majalah itu. Ah Robin, dalam keadaan seperti ini kau masih ingat idolaku. Ingat majalah kesukaanku. Majalah yang sering memuat tulisanku . Bukankah aku telah menyakitimu?
Aku membuka  lembar-demi lembar majalah itu. Kau memperhatikan aku. Kadang mata kita bertemu. Dan kemudian kita diam. Mungkin hanya hati kita yang bicara. Kemuadian kau mengambil kuci motormu.
“Aku berangkat.” Katamu. Aku kaget. Aku ingin menahanmu agar tidak berangkat, ingin mengatakan sesuatu . Tapi aku tak bisa. Aku hanya berusaha tersenyum. Kau pun tersenyum memandangku. Mata kita bertemu. Ada gejolak di hati ini. Sinar matamu  seakan berkata, “ Mengapa kau bohongi dirimu, bahwa sebenarnya kita saling cinta.” Akhirnya aku menund uk, air mata yang mengambang kutahan agar tak jatuh di depanmu.
“Kau harus tetap ke sini. “ pintaku, dan airmataku tak bisa bisa kutahan lagi.
“Kini sudah lain, aku tidak sebebas dulu. Kau ada yang punya.”  
“Tapi,  aku....”
“Oke! Jawabmu, menghentikan kalimatku. Kau berdiri dan mendekat, tanganmu terulur mengahapus air mataku.
“Jangan menangis lagi. Nanti kau sakit. “Pintamu  lemah ,membuaat air mataku makin tak terbendung. Aku mnganguk tak melihatmu.
“Berangkatlah.” Lanjutku

Robin , Ternyata aku tidak bisa  membohongi hatiku sendiri. Pertunanganku dengan Mas Doni tak bisa kupertahankan. Aku tak ingin  membohonginya. Jadi seperti aku menerima pinangannya, akupun memutuskan pertunangan itu. Aku sendiri datang ke Mas Doni untuk memutuskannya tanpa musyawarah dengan Ibuk dan Bapak.  Mas Doni terlalu baik untuk kubohongi bahwa sebenarnya hatiku untukmu. Mas Doni sebenarnya keberatan keputusanku  bahkan dia  bersedia menungguku  sampai aku mau menerimanya. Tapi aku tetap pada pendirianku. Aku membatalkan pertunangan itu. Mendengar keputusanku  Bapak marah besar , bahakan karena marahnya aku diusrir dari rumah. Bagiku  wajar , aku memahaminya. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk itu semua. Beberapa bulan berikutnya ibuk sakit. Awalnya sesak tapi diagnosa berikutnya ibuk sakit jantung. Dan  kemudian  ibu di panggil lebih dulu oleh Allah menghadapNya. Aku tak pernah menghubungkan sakit ibu dengan keputusanku. Mekipun aku sangat sedih dan terpukul dengan kepergian ibuk, sku  tak pernah menghubungkannya dengan keputusanku. Aku rasa Allah tel;ah menyiapkan jalan yang terbaik bagi umatnya dengan peristiwa yang kadang suliit diiterima.
Robin, Malam makin larut. Suara televisi tak terdengar lagi. Mungkin Bapak sudah tidur.  Rasanya kantukkupun hilang. Kaupun malam ini mungkin sudah tertidur lelap.  Oh, ya mengapa malam ini aku ingat padamu? Tadi di Surabaya kulihat kantor Pusat tempat kerjamu. Dulu kau pernah mengajakku untuk ikut ke kantor pusatmu. Aku setuju.Kebetulan hari yang kau sebut aku sedang libur.  Aku sempat bingung akan memakai baju apa  waktu itu. Pergi ke luar kota denganmu ,meskipun aku bukan pacarmu setidaknya aku berpenampilan menarik, agar kau tidak malu berjalan disampingku. Lagi pula kau sangat sensitif  terhadap penampilanku.  
“Wah, kamu cantik pake baju itu.” Atau  kau akan cemmberut , “Jangan pake baju itu  gak pantes.” Itu komentarmu. Aku ingat sekali.
Tapi nasibku sial, pada hari kita seharusnya  ke Surabaya aku sakit. Aku demam, dan kedua kakiku tak bisa digerakkan. Entahlah  apa nama penyakit itu. Sampai sekarang ,aku tak pernah membahasnya  lagi.  Pagi-pagi sekali kau datang, langsung masuk ke kamarku. Kau berpenampilan rapi, kulihat kau tampan sekali. Aku tersenyum melihatmu. Dengan reflek aku hendak bangun. Tapi kau menggeleng.
“Ga usah bangun. Aku mengerti, aku takkkan menyentuhmu.” Suaramu tenang duduk di samping ranjangku ,  melihatku khawatir.
“Maaf, aku tak bisa ikut.”
“Tidak  apa-apa, lain kali saja.”  “Sakit apa?”
“Kakiku tak bis digerakkan.”
“ Loh gak bisa digerakkan gimana? Sudah ke dokter?”
“Belum.”
“Ayok kuantar ke dokter dulu.”
“Ga usah ,kamu kan mau berangkat, nanti saj bareng Bapak.”
Kau  diam sejenak, kemudian melangkah ke luar. Beberapa lama kau kembali lagi. Dengan membawa sesuatu di tanganmu.
“Coba kau gunakan ini, mungkin bisa membantu.” Sebuah alat pijat reflesi ,bentuknya kecil. Kemudian kau meletakkannya di samping bantalku.  
“Aku berangkat,ya.” Katamu  beberapa saat kemudian. Aku mengangguk,.
“Hati-hati”
Kuperhatikan punggungmu ketika kau melangkah ke luar kamarku, lalu kemudan kau diam sejenak dan kembali  menghampiriku sambil tersenyum...
“Kau mau oleh-oleh apa?”
“Mau oleh-oleh kamu selamat sampai di sini”  jawabku  sambil tersenyum.  Kulihatair mukamu  berubah cerah dan kau lebih mendekati aku, walaupun tak kau lakukan apa-apa, kau hanya tersenyum  memandangku lebih dekat ,’”Ok, aku berangkat ya.”
Robin, seandainya kita sudah berikrar menjadi kekasih, mungkin kau akan mencium keningku. Untuk menghilankan kekhawatiranmu. Tapi meskipun tak kau lakukan apap-apa kau telah memberi perhatian lebih dari seorang kekasih. Kau tak pernah menyentuhku, karena kau kau memang sangat menghormatiku.
Sepulang dari Surabaya, kau langsung  ke kamarku...
“Ini oleh-olehnya,aku selamat sampai di sini  jadi aku gak pulang dulu.”
“Alhamdulillah. Kau selamat.”  Jawabku, Kulihat tubuhmu yang lelah karena memang perjalanan jauh.
“Kau sudah baikan, kan?” Tanyamu melihat aku sudah bisa menggerakkan kakiku.
“Sudah.”
“Alat itu bisa membantumu?”
“Sebenarnya bisa, tapi tidak kugunakan.”
“Kenapa?”
“ Takut sakit”
“Kau memang penakut” Katamu tertawa.  Kemudian kau berdiri mengambil bungkusan dari ranselmu. Dan malam  itu Ibuk, dek Ziko  ikut nimbrung di kamarku ,bercengkrama bersama..  Kau seakan tak lelah sehingga kau masih bercerita panjang perjalananmu di kamarku. Oh.. waktu itu.
Robin, adikku, saudaraku, kekasih hatiku. Malam ini mungkin kau sudah tertidur lelap. Atau kau tiba-tiba terjaga, karena namamu selalu kusebut. Selamat malam Robin! Semoga kau bahagia selalu bersama keluargamu . Biarlah kehilanganku, cintaku, kisahku menjadi  lukisan indah dalam perjalan hidupku. Masih banyak yang harus dikerjakan di dunia ini, hingga akhir kehidupan kita.
Selamat malam Robin! Terima kasih kau pernah hadiir dalam hidupku!


selesai ya ceritanya?....aku berharap dia balikan sama Robin...tapi keren neng....makasih ya
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Rini

avatar

Posts : 3161
Join date : 11.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Wed 14 Nov 2018 - 9:50

Nila wrote:
Mia wrote:
:peek: Malam.....
Ini kamar no brp? Kok ruangnya baru?? :tertawa:

kamar no 1 :senyum:

:intip: Ass wr wb...halooooo :smile:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Rini

avatar

Posts : 3161
Join date : 11.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Wed 14 Nov 2018 - 9:51

Tkb neng oci requestq telah dipenuhi...pokoke semoga kangmas bisa .............. aamiin
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Rini

avatar

Posts : 3161
Join date : 11.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Wed 14 Nov 2018 - 9:52

Nila wrote:
Mia wrote:

ROBIN (2)

Robin, Aku pulang dengan lebih santai, setelah melihatmu. Setelah bertemu denganmu rasanya ada yang lega di hati ini. Entah apa itu aku tidak tahu. Aku menganggapnya kita akan baik-baik saja, meskipun nanti kita akan berpisah dan memilih orang lain yang akan mendampingi hidup kita. Kita akan tetap bersaudara, bersahabat. Takkan ada rindu yang menyiksa. Semua kan baik-baik saja.  Akhirnya kuterima  lamaran Mas Doni. Bapak sangat senang dengan keputusanku. Sementara Ibu tetap meyakinkanku.
“Kau tidak salah mengambil keputusan ini. Robin tak pernah  berjanji menikahimu kan?” Kata Ibuk, pertanyaan retoriis yang tak memerlukan jawaban dariku. Aku tak tahu mengapa ibuk berkata seperti itu. Dan hari pertunangan telah ditentukan. Aku tidak memberitahumu, ketika kau ke rumah malam itu. Kau tampak berbeda. Atau aku yang menganggapmu berbeda? Atau aku sudah masuk pada perangkap cintaku sendiri. Melihatmu , tak seperti ketika kau  datang ke rumah  sebelum - sebelumnya. Padahal waktu yang kita lalui lebih dari tiga tahun.
“ Kamu kenapa? Kamu sakit?” Aku tergagap,  kata “Kamu” pada satu kalimat pertanyaan itu bukan lagi dari yunior pada seniornya. Bukan dari Dik Robin pada mbak Rin. Tapi sebuah pertanyaan dari seorang laki-laki dewasa pada wanita yang dihawatirkannya.
“ Hai...” Katamu lagi lebih mendekat . Aku menggeleng
“Tdak apa-apa.” Jawabku.
“Bener??”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya kau  puas dengan  anggukanku. Entah apa lagi yang kita bicarakan malam itu. Yang pasti aku merasa malam itu  malam yang berbeda . Aku lebih senang memandangmu. Aku telah menemukan banyak hal yang tak bisa kuungkapkan padamu.

Hari pertunaganku tiba, aku tidak memberi tahumu. Aku kejam kan Robin?  Kau tahu mengapa aku tidak memberitahumu? Sebelumnya aku begitu yakin akan  membertitahumu dengan kemenanganku ,bahwa aku akan bertunangan. Aku akan menikah. Kau harus membantuku untuk kelancarannya. Tapi semua itu tak kulakukan. Aku tak membertahumu, bahkan aku tak menyampaikan apapun padamu.  Ternyata ada ketakutan yang besar padamu. Aku takut ketika memberitahumu kau  tak  kan lagi menemuiku. Aku takut. Dan takut.
  Dan akhirnya kau memdengar juga pertunagan itu. Kau datang dua hari setelah pertunaganku di malam hari. Malam yang dingin. Kau datang  dengan wajah dingin pula wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Wajah kecewa, sinar mata kemurungan tampak jelas di wajahmu.
“ Benar , Rin? Kau bertunangan?”  Tanyamu dengan lemah, tak bergairah. Aku mengangguk  sambil menunduk. Tiba-tiba akupun merasa bersalah.
“ Mengapa kau lakukan? Apa kau...?” lanjutmu menatapku tajam. Kemudian kau menunduk lama sekali. Kemudian kau mencakar rambutmu. Tapi yang sakit hatiku. Kemudian kita dalam diam dan diam.
“Ternyata aku benar-benar kehilangan.” Suaramu memecah kesunyian, kemudian kau berdiri dan mengulurkan tangamu.Tangan yang dingin dan bergetar menggenggam tangan ku.
“Selamat!selamat! semoga kau bahagia.”
“Akhirnya aku kehilangan.” Satu kalimat lagi  menggores hatiku. Kunikmati  kata-katamu dengan  sesak di dada.  Kemudian kau mengambil kunci motormu. Air putih kesukaanmu tidak kau sentuh. Kau berdiri sambil manarik nafas.
“Aku pulang .”Katamu lemah. Kau berdiri sebentar memandangku , kemudian kau belalu dengan langkah gontai. Dan saat itu pula  separuh jiwaku ikut denganmu.

Robin!  Kalau kau sakit malam itu, aku yang lebih sakit. Kalau aku bisa bicara ingin kutanyakan, kita tak pernah  berjanji untuk hidup bersama. Kita tak pernah berikrar menjadi kekasih . Kau hanya mengangapku kakak. Aku hanya idolamu. Aku hanya temanmu yang memberi senyum dan tawa kedamaian .Mengapa wajahmu seperti kekasih yang dihianati  Setelah kuambil keputusan itu?  Mengapa pula semua perhatian sayangmu padaku baru kusadari sejak malam itu. Setelah kuambil keputusan itu?
“Ini, kau bilang kertas lipatnya habis. Besok kan harus kamu pake di sekolah .”  Katamu, menyerahkan kertas lipat origami .Aku terkejut waktu itu tapi gembira, karena aku memang kehabisan kertas itu dan belum sempat membelinya. Kau datang malam hari  setelah sepi semua tertidur. Mungkin jam 11 malam.
“ Trims ya. Kok kamu tahu?”
“Ya tahulah.  Udah masuk,lanjut tidurmu.” Katamu sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Akupun ikut melambaikan tangan.
Ternyata hal yang tak kuhiraukan menjadi kenangan terindah bagiku.  Robin, kita juga  pernah menembus hujan deras karena aku mau . Waktu itu kita pulang kuliah  dan di tengah perjalanan tiba-tiba hujan mengguyur kita.
“Berteduh dulu” Katamu, sambil mengurangi laju  motormu.
“ Ga usah. Terobos saja. “ Pintaku.
“ Terobos? Basah kuyup kita”
“Tanggung. Kita sudah basah.  Ayo terobos.” Pintaku.
Kau Langsung ngegas  motormu, menembus hujan lebat.
“ Asik juga hujan-hujanan” Katamu sambil tertawa.
“Dibilangin apa?. Anak kecil suka ujan-ujana”
“Siapa anak kecil?”
“Kamu.”
“Anak besar juga suka.”
“Siapa?”
“Kamu .’ kemudian kita tertawa bersama.  
Robin. Setelah keputusan itu aku menmikirkanmu, selalu memikirkanmu. Mengingat kembli masa-masa kita bersama. Kehadiran Mas Doni di malam Minggu, tak mampu menggantikan kerinduanku padamu. Setiap hari aku semakin merindukanmu . Aku sering berdiri di depan pintu, melihat pohon mangga. Tempat  motormu parkir di sana. Tapi tak ada lagi motormu. Pohon mangga itu menjadi saksi , betapa aku merindukanmu. Hingga suatu malam kau benar-benar tidak pergi dari pelupuk mataku. Apa yang kulakukan? Aku hanya menangis dan menangis. Aku tak bisa tidur semalaman aku menangis sampai pagi  merindukanmu.  Mengapa di saat harus yakin berpisah, ternyata sangat membutuhkan. Dalam keadaan seperti itu  pagi-pagi kau datang.  Aku terkejut bahagia. Apa itu “Kontak batin?” aku tak tahu. Kau menatapku sendu.
“Kau habis menangis?’  tanyamu cemas. Tapi aku tak menjawab. Biarlah keadaanku yang menjelaskan padamu bahwa aku  dalam kerinduan yang sangat. Padamu padamu Robin.
“Jangan  difikir. Nanti kau sakit. Kulihat tubuhmu makin kurus.”  Kualihkan kata-katamu, bukankah kau telah tahu keadaaku.
“Kau tidak kerja?’
“Kerja ke sini dulu.” Kemudian kau mengambil sesuatu dari  balik jaketmu.
“Majalah ini memuat tokoh  idolamu.” Aku mengambil majalah itu. Ah Robin, dalam keadaan seperti ini kau masih ingat idolaku. Ingat majalah kesukaanku. Majalah yang sering memuat tulisanku . Bukankah aku telah menyakitimu?
Aku membuka  lembar-demi lembar majalah itu. Kau memperhatikan aku. Kadang mata kita bertemu. Dan kemudian kita diam. Mungkin hanya hati kita yang bicara. Kemuadian kau mengambil kuci motormu.
“Aku berangkat.” Katamu. Aku kaget. Aku ingin menahanmu agar tidak berangkat, ingin mengatakan sesuatu . Tapi aku tak bisa. Aku hanya berusaha tersenyum. Kau pun tersenyum memandangku. Mata kita bertemu. Ada gejolak di hati ini. Sinar matamu  seakan berkata, “ Mengapa kau bohongi dirimu, bahwa sebenarnya kita saling cinta.” Akhirnya aku menund uk, air mata yang mengambang kutahan agar tak jatuh di depanmu.
“Kau harus tetap ke sini. “ pintaku, dan airmataku tak bisa bisa kutahan lagi.
“Kini sudah lain, aku tidak sebebas dulu. Kau ada yang punya.”  
“Tapi,  aku....”
“Oke! Jawabmu, menghentikan kalimatku. Kau berdiri dan mendekat, tanganmu terulur mengahapus air mataku.
“Jangan menangis lagi. Nanti kau sakit. “Pintamu  lemah ,membuaat air mataku makin tak terbendung. Aku mnganguk tak melihatmu.
“Berangkatlah.” Lanjutku

Robin , Ternyata aku tidak bisa  membohongi hatiku sendiri. Pertunanganku dengan Mas Doni tak bisa kupertahankan. Aku tak ingin  membohonginya. Jadi seperti aku menerima pinangannya, akupun memutuskan pertunangan itu. Aku sendiri datang ke Mas Doni untuk memutuskannya tanpa musyawarah dengan Ibuk dan Bapak.  Mas Doni terlalu baik untuk kubohongi bahwa sebenarnya hatiku untukmu. Mas Doni sebenarnya keberatan keputusanku  bahkan dia  bersedia menungguku  sampai aku mau menerimanya. Tapi aku tetap pada pendirianku. Aku membatalkan pertunangan itu. Mendengar keputusanku  Bapak marah besar , bahakan karena marahnya aku diusrir dari rumah. Bagiku  wajar , aku memahaminya. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk itu semua. Beberapa bulan berikutnya ibuk sakit. Awalnya sesak tapi diagnosa berikutnya ibuk sakit jantung. Dan  kemudian  ibu di panggil lebih dulu oleh Allah menghadapNya. Aku tak pernah menghubungkan sakit ibu dengan keputusanku. Mekipun aku sangat sedih dan terpukul dengan kepergian ibuk, sku  tak pernah menghubungkannya dengan keputusanku. Aku rasa Allah tel;ah menyiapkan jalan yang terbaik bagi umatnya dengan peristiwa yang kadang suliit diiterima.
Robin, Malam makin larut. Suara televisi tak terdengar lagi. Mungkin Bapak sudah tidur.  Rasanya kantukkupun hilang. Kaupun malam ini mungkin sudah tertidur lelap.  Oh, ya mengapa malam ini aku ingat padamu? Tadi di Surabaya kulihat kantor Pusat tempat kerjamu. Dulu kau pernah mengajakku untuk ikut ke kantor pusatmu. Aku setuju.Kebetulan hari yang kau sebut aku sedang libur.  Aku sempat bingung akan memakai baju apa  waktu itu. Pergi ke luar kota denganmu ,meskipun aku bukan pacarmu setidaknya aku berpenampilan menarik, agar kau tidak malu berjalan disampingku. Lagi pula kau sangat sensitif  terhadap penampilanku.  
“Wah, kamu cantik pake baju itu.” Atau  kau akan cemmberut , “Jangan pake baju itu  gak pantes.” Itu komentarmu. Aku ingat sekali.
Tapi nasibku sial, pada hari kita seharusnya  ke Surabaya aku sakit. Aku demam, dan kedua kakiku tak bisa digerakkan. Entahlah  apa nama penyakit itu. Sampai sekarang ,aku tak pernah membahasnya  lagi.  Pagi-pagi sekali kau datang, langsung masuk ke kamarku. Kau berpenampilan rapi, kulihat kau tampan sekali. Aku tersenyum melihatmu. Dengan reflek aku hendak bangun. Tapi kau menggeleng.
“Ga usah bangun. Aku mengerti, aku takkkan menyentuhmu.” Suaramu tenang duduk di samping ranjangku ,  melihatku khawatir.
“Maaf, aku tak bisa ikut.”
“Tidak  apa-apa, lain kali saja.”  “Sakit apa?”
“Kakiku tak bis digerakkan.”
“ Loh gak bisa digerakkan gimana? Sudah ke dokter?”
“Belum.”
“Ayok kuantar ke dokter dulu.”
“Ga usah ,kamu kan mau berangkat, nanti saj bareng Bapak.”
Kau  diam sejenak, kemudian melangkah ke luar. Beberapa lama kau kembali lagi. Dengan membawa sesuatu di tanganmu.
“Coba kau gunakan ini, mungkin bisa membantu.” Sebuah alat pijat reflesi ,bentuknya kecil. Kemudian kau meletakkannya di samping bantalku.  
“Aku berangkat,ya.” Katamu  beberapa saat kemudian. Aku mengangguk,.
“Hati-hati”
Kuperhatikan punggungmu ketika kau melangkah ke luar kamarku, lalu kemudan kau diam sejenak dan kembali  menghampiriku sambil tersenyum...
“Kau mau oleh-oleh apa?”
“Mau oleh-oleh kamu selamat sampai di sini”  jawabku  sambil tersenyum.  Kulihatair mukamu  berubah cerah dan kau lebih mendekati aku, walaupun tak kau lakukan apa-apa, kau hanya tersenyum  memandangku lebih dekat ,’”Ok, aku berangkat ya.”
Robin, seandainya kita sudah berikrar menjadi kekasih, mungkin kau akan mencium keningku. Untuk menghilankan kekhawatiranmu. Tapi meskipun tak kau lakukan apap-apa kau telah memberi perhatian lebih dari seorang kekasih. Kau tak pernah menyentuhku, karena kau kau memang sangat menghormatiku.
Sepulang dari Surabaya, kau langsung  ke kamarku...
“Ini oleh-olehnya,aku selamat sampai di sini  jadi aku gak pulang dulu.”
“Alhamdulillah. Kau selamat.”  Jawabku, Kulihat tubuhmu yang lelah karena memang perjalanan jauh.
“Kau sudah baikan, kan?” Tanyamu melihat aku sudah bisa menggerakkan kakiku.
“Sudah.”
“Alat itu bisa membantumu?”
“Sebenarnya bisa, tapi tidak kugunakan.”
“Kenapa?”
“ Takut sakit”
“Kau memang penakut” Katamu tertawa.  Kemudian kau berdiri mengambil bungkusan dari ranselmu. Dan malam  itu Ibuk, dek Ziko  ikut nimbrung di kamarku ,bercengkrama bersama..  Kau seakan tak lelah sehingga kau masih bercerita panjang perjalananmu di kamarku. Oh.. waktu itu.
Robin, adikku, saudaraku, kekasih hatiku. Malam ini mungkin kau sudah tertidur lelap. Atau kau tiba-tiba terjaga, karena namamu selalu kusebut. Selamat malam Robin! Semoga kau bahagia selalu bersama keluargamu . Biarlah kehilanganku, cintaku, kisahku menjadi  lukisan indah dalam perjalan hidupku. Masih banyak yang harus dikerjakan di dunia ini, hingga akhir kehidupan kita.
Selamat malam Robin! Terima kasih kau pernah hadiir dalam hidupku!


selesai ya ceritanya?....aku berharap dia balikan sama Robin...tapi keren neng....makasih ya


:tepuktangan: :tepuktangan: ...bagus
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Rini

avatar

Posts : 3161
Join date : 11.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Wed 14 Nov 2018 - 9:53

neng oci...biasanya ruangan baru...baju baru nee :smile: :smile:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Rini

avatar

Posts : 3161
Join date : 11.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Wed 14 Nov 2018 - 9:57

Nila wrote:
Mia wrote:
Nila wrote:

Ohh..Hari Ayah ya? Met hari ayah. Beliau hartaku yang harus kujaga di dunia ini.


Ayah kita pasti ...is the best y....."Bapak....aku kangen" :nangis: :nangis:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: CVL   

Kembali Ke Atas Go down
 
CVL
Kembali Ke Atas 
Halaman 3 dari 25Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4 ... 14 ... 25  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
CHEVAN LOVERS :: Chevan Lovers :: Silakan teman-teman komentar disini-
Navigasi: