Selamat datang di forum Chevan Lovers, fans Evan Sanders & Chelsea Olivia
 
IndeksIndeks  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 CVL

Go down 
Pilih halaman : Previous  1 ... 51 ... 98, 99, 100
PengirimMessage
Nila
Admin
avatar

Posts : 7163
Join date : 20.05.14

PostSubyek: CVL   Fri 16 Mar 2018 - 7:43

First topic message reminder :

TELAGA KASIH CHEVAN


Berawal dari sinetron Antara Cinta dan Dusta (ACdD), Evan Sanders dan Chelsea Olivia Wijaya dipertemukan. Chemistry Evan Sanders dan Chelsea Olivia (CHEVAN) membius kami. Usia mereka yang terpaut jauh membuat chemistry itu menarik dan unik. Chelsea yang masih belia, bisa mengimbangi Evan yang sudah dewasa, sehingga kami tidak bosan melihat acting mereka yang natural. Setelah disinetron ACdD, mereka dipersatukan lagi di sinetron Cinta Sejati...bagi fans CHEVAN, tentu sampai detik ini masih mengharap Chevan segera bersatu lagi dalam satu project... sambil nunggu Chevan bersatu lagi, yuk fans CHEVAN komen di sini... pasti nunggunya lebih seru!


Twitter Evan Sanders: @evansaders_id

Twitter Chelase Olivia: @chelseaolivia92


instagram Evan Sanders: https://www.instagram.com/iam.evansanders/?hl=id

instagram Chelsea Olivia: https://www.instagram.com/chelseaoliviaa/?hl=id


Terakhir diubah oleh Nila tanggal Thu 8 Nov 2018 - 16:56, total 41 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net

PengirimMessage
Mia

avatar

Posts : 4077
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Sat 10 Nov 2018 - 22:03

Nila wrote:
Mia wrote:

ingat 7 tahun yang lalu :senyum:

Ga keras udah 7 tahun ya :senyum:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Mia

avatar

Posts : 4077
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Sat 10 Nov 2018 - 22:06

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Mia

avatar

Posts : 4077
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Sat 10 Nov 2018 - 22:11

ROBIN
Oleh : Mia

Malam ini tiba-tiba rintik hujan datang lagi. Padahal kemarin hujan lebat hingga di sudut kota banjir. Angin tidak lagi bertiup . Di kamar ini lengang. Hanya di ruang keluarga suara televisi terdengar lebih keras. Rupanya ayah masih setia dengan televisinya. Biasanya yang dia suka sinetron laga yang meceritakan tentang kisah raja-raja jaman dahulu.
Dan malam ini pun kantukku hilang seketika, meskipun tubuhku lelah setelah perjalan ke luar kota seharian tadi. Entahlah! Semenjak di perjalanan tadi hingga di kamar ini. Dan rasanya perasaan ini selalu hadir setiap saat, setiap kekosongan waktu itu ada di hatiku. Aku ingat engkau Robin! Kau kenal dengan aku karena dikenalkan temanku. Walaupun kita satu kampus tapi sebelumnya kita gak pernah kenal. Setelah perkenalan itu kau sering menemuiku bahkan kau sering menjemputku dan pulang kuliah bersama. Aku ingat sekali Robin, kau selalu membawaku dengan sepeda motor metic Vario hitam kesayanganmu.
Dari perkenalan itu akhirnya kita menjadi sahabat, kau asik diajak diskusi, bahkan penuh pengertian dan perhatian. Hari-harimu selalu bersamaku. Kau juga akrab dengan keluargaku, karena memang kau supel pandai menempatkan diri, dan sopan. Apalagi dek Ziko ,adekku yang bungsu , dia sangat tergantung padamu. Dia bersikap manja ketika kau di rumah.
Kau selalu membuat hangat suasana ketika kita bersama, kau kadang bercerita tentang gadis-gadismu yang pernah kau taklukan. Dan sebailiknya aku enggan membicarakan urusan asmara denganmu. Kau yang tahu kesulitanku ketikas aku harus mengurusi sendir setiap kegiatan di sekolah tempat aku mengajar. Mengajar anak Tk adalah kesenada kebahagiaa tersendiri di anganku, meskipun honorku tidak seberapa tapi ada kebahagiaan sendiri di hati . Kau paham itu. Bahkan kau ikut mendukungku, dengan ikut mengantarku ke manapun aku mau untuk mengurusi segala yang berurusan dengan murid Tkku.
“Kau ini guru apa pesuruh sih?” Tanyamu ketika kau datang ketempatku mengajar.
“Dua-duanya”
“Kok gitu?”
“Di sini gurunya aku saja, jadi aku merangkap kepala sekolah, dan pesuruh”
“Ya ,mengajukan dong”
“ Ah, kau ini. Ini TK di desa pelosok.ceritanya panjang.” Jawabku menghentikan keingin tahuanmu. Kau kemudian tahu bahwa Tkku itu rintisan aku sendiri. Di sebuah desa kecil jauh dari kota.
Robin, waktu itu aku selalu memanggilmu “adik” karena usiaku 2 tahun lebih tua darimu, kau juga yuniorku di kampus . Meskipun kau sering protes dengan sapaan yang kuberikan. Tapi aku merasa nyaman dengan itu aku mersa lebih santai bersamamu. Sehingga ketika bertemu teman, atau siapapun yang menayakanmu aku selalu mengatakan “Ini adikku.” Aku tak pernah tahu persaanmu waktu kukatakan seperti itu. Hanya dalam hatiku aku berharap kau maih punya pintu terbuka untuk siapapun meskipun kau selalu bersamaku. Aku tak boleh GR .
Ah, Robin ! Lebih dari lima tahun persahabatan kita, kebersamaan kita. Kau telah tahu segala yang ada dalam hidupku. Kau juga tahu kelebihan dan kekuranganku. Perhatianmu padaku yang berlebih kadang membuatku berfikir kau tidak hanya sebagai adik. Tapi semua itu kutepis, karena kita memang berikrar untuk menjadi sahabat. Menjadi saudara. Kemudian ada ketakutan pada diriku, ketergantunganku terlalu besar padamu. Kau berkata, aku idolamu, senyumku yang membuatmu damai. Aku sadar. Bersahabat, bersaudara tidak selalu berakhir di pelaminan. Itu lebih baik agar tetap terjalin silaturrohim sebagai sahabat, sebagai saudara. Kau menganggapku mbak, dan kuanggap kau adik.
“ Kelak jika kau sudah menemukan gadis pendamping hidupmu. Apa kau akan berubah?’ Kataku suatu sore di rumahku.
“Ya tidaklah” Jawabmu tidak memandangku, kau masih terus membaca majalah yang sebernanya kau bawakan untukku.
“Ya berubahlah, kau kan punya urusan sendiri dengan dia.”
“Tidak. Tidak akan berubah. Aku tak ingin rumah ini jadi kenangan. Aku damai di sini, di sini menyenangkan.” Jawabmu sambil memandangku tajam.
Tapi tahukah kau? , itu kalimat pancingan buatmu, agar kau mengatakan satu kata untuk hubungan kita ke depan. Bukankah waktu terus berjalan? Bukankah hidup perlu kepastian?

Suatu malam ibukku datang ke kamarku, sambil menutup pintu kamar. Aku tak pernah melihat ibuk seserius itu.
“ Ibuk mau tanya” Katanya pelan
“Apa Bu. Kok serius?”
“ Gimana hubunganmu dengan Robin?’
“Hubungan apa?”
“Dia pacarmu?” Aku terkejut, tak pernah kusangka pertanyaan itu yang disampaikan ibuk.
“ Mengapa ibu tanya gitu?”
“ Karena dia sangat perhatian padamu.”
Aku mengerti maksud Ibu, tapi aku tak boleh egois dengan jawabanku. Waktu itu aku ingin sekali berlari padamu Robin. Ingin mengajukan pertanyaan yang sama seperti Ibu. “apakah kau anggap aku pacarmu?”
“Bukan ,Buk. Aku tidak pacaran dengannya. Aku hanya dianggapnya kakak.” Jawabku. Dan ibuk mengangguk. Sambil berfikir sejenak.
“Dia tak pernah mengatakan sesuatu padamu?” lanjut ibuk .Aku langsung menggeleng. Ibuku memang sangat bijaksana. Begitu hati-hati bertanya padaku.
“ Bapakmu tadi menyuruh aku bertanya padamu. Ada anak teman Bapakmu yang menayakan kamu, jadi dia akan datang ke sini. ”
“Maksud Ibuk? “
“ Dia ingin melamarmu, tapi dia tidak memaksamu. Dia ingin bertemu kamu dulu . Kamu tanya sendiri. Liat anaknya gimana. Baru ambil keputusan. Begitu pesan bapakmu.”
“Buk....”
“Ini usulan untukmu. Kalau kau ingin gambaran. Anaknya baik, dari keluarga baik. Dia sudah sarjana dan pegawai negeri . Mengajar di SMA . “ Ibuk menjelaskan dengan bahasa daerah yang kental. Dan ibuk berlalu sambil menutup kembali pintu kamar.
Benar! Keesokan harinya dia datang. Memperkenalkan namanya, pada acara perkenalan itu , dia yang kupanggil Mas Doni itu. Memberi waktu padaku untuk berfikir tentang maksudnya.
Robin! Adikku Robin. Waktu itu kau yang biasanya sepulang kerja ke rumah, tidak ke rumah lagi. Hingga aku ke rumahmu dengan kemantapan hati aku akan menerima pinangan Mas Doni. Tapi ada keraguan di sudut hatiku. Ada rindu yang berdesir di sudut hati ini. Kuanggap itu desiran rindu kepada seorang sahabat , seorang adik. Akhirnya sore itu aku datang ke rumahmu. Kau ingat kan Robin ?Waktu itu tanah masih basah karena habis diguyur hujan. Kau terlihat terkejut melihatku? Kulihat senyummu cerah sekali.
“Wah, mbak Rin sudah berani datang ke sini sendiri.” Sambutmu dengan gembira. Kau terlihat senang, karena aku memang jarang ke rumahmu. Itupun selalu ada teman, entah bersamamu, bersama temanku atau dek Ziko.
“Kok gak ke rumah?” tanyaku langsung .
“Sory, aku dapat tugas tambahan dari Bos. Jadi waktuku tersita. Ini rencana nanti mau ke sana”
“ Nggak apa-apa kalau sibuk. Takutnya kamu sakit.”
“Sehatlah!” Jawabmu sambil mengakat kedua tanganmu, seperti iklan susu yang ada di TV. Aku tertawa liat tingkamu. Kau memang selalu membuatku tertawa.Kau kadang bertingkah konyol agar kubisa tertawa. Kaupun ikut tertawa Sambil memandangku tajam Kau pernah bilang bahwa tawaku membuatmu damai. Aku tersanjung dengan itu.
“ Di rumah sehat semua kan?” tanyamu kemudian. Aku mengiyakan . Kemudian kau bercerita tentang tugas tambahamu, tapi kau bumbui dengan kisah konyol yang membuatku kembali tertawa lepas. Ah , Robin senangnya bersamamu. Aku kembali yakiin waktu itu bahwa kau akan tetap menjadi adikku, sahabatku dan saudaraku, tanpa harus diracuni dengan kisah asmara yang pelik. Itu lebih baik pikiirku.
“ Ada apa? “ Tanyamu serius,sambil memandangku lekat. Setelah akun pamit pulang. Aku melihat ada hal yang beda dengan tatapanmu, hatikupun bergejolak. Seperti ada desiran indah. Namun kualihkan semuanya menjadi normal kembali.
“ Gak ada, hanya liat kamu saja” jawabku bohong.
“Bener?”
Aku mengangguk.
“Oh ya, aku bingung akhir-akhir ini.”
“Bingung kenapa?”
“Usia makin bertambah, mungkin aku harus segera menikah?” Kataku tiba-tiba.
“Dengan siapa?” Tanyamu sambil tertawa.
‘ Dengan siapa saja , yang mau denganku?” Jawabku sambil tertawa pula.
“ Dengaku mau?” Tanyamu lagi masih dengan tertawa.
“Dengan siapa saja yang mau denganku” Jawabku lagi sambil tertawa. Sebenarnya aku atau mungkin kita sedang bersandiwara. Aku merasa Rasanya ada perbedaan tekanan ketika kau bertanya , “Ada apa?” Pertanyaan dan tatapanmu telah meruntuhkan pertahananku, aku hampir menyerah padamu. Namun ketika kita tertawa membicarakan pernikahan. Saat itulah kuungkapkan dengan bercanda, dan kau menyambutnya dengan candaan pula. Seperti kita tak pernah membicarakan hal-hal serius. Yang seriuspun kita buat candaan agar kita bisa tertawa bersama.

(BERSAMBUNG)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Nila
Admin
avatar

Posts : 7163
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Sun 11 Nov 2018 - 8:14

Mia wrote:


Siapa pahlawanmu ?

siapa ya neng...aku juga bingung :senyum:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7163
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Sun 11 Nov 2018 - 8:15

Mia wrote:
Nila wrote:
Mia wrote:
# Beritahu aku bagaimana caranya  mengurangi rasa rindu ini ....#

bawa beraktivitas...kalau kita sibuk ngak begitu terpikirkan :senyum:

Iya yah... klo sibuk emang ga ingat# Makcie sarnnya DP..love u :bunga: :hati:

iya neng...sama2 :smile:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7163
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Sun 11 Nov 2018 - 8:16

Mia wrote:
Nila wrote:
Mia wrote:

ingat 7 tahun yang lalu :senyum:

Ga keras udah 7 tahun ya :senyum:

semoga kita juga masih bisa bertahan :senyum:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7163
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Sun 11 Nov 2018 - 8:17

Mia wrote:

:hahaha: :hahaha: :hahaha:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7163
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Sun 11 Nov 2018 - 8:18

[quote="Mia"]
ROBIN
Oleh : Mia

Malam ini  tiba-tiba rintik hujan datang lagi. Padahal kemarin hujan lebat hingga di sudut kota  banjir. Angin  tidak lagi bertiup . Di kamar ini lengang. Hanya di ruang keluarga suara televisi terdengar lebih keras. Rupanya ayah masih setia dengan televisinya. Biasanya yang dia suka sinetron laga yang meceritakan tentang kisah raja-raja  jaman dahulu.
Dan malam ini pun kantukku hilang seketika, meskipun tubuhku lelah setelah perjalan ke luar kota seharian tadi. Entahlah! Semenjak di perjalanan tadi hingga di kamar ini. Dan rasanya perasaan ini selalu hadir  setiap saat, setiap kekosongan waktu itu ada di hatiku. Aku ingat engkau Robin! Kau kenal dengan aku karena dikenalkan temanku. Walaupun kita satu kampus tapi sebelumnya kita gak pernah kenal. Setelah perkenalan itu kau sering menemuiku bahkan kau sering menjemputku dan pulang kuliah bersama. Aku ingat sekali Robin, kau selalu membawaku dengan sepeda motor metic Vario hitam kesayanganmu.
Dari perkenalan itu  akhirnya kita menjadi sahabat,  kau asik diajak diskusi, bahkan penuh pengertian dan perhatian. Hari-harimu selalu bersamaku. Kau juga  akrab dengan keluargaku, karena memang kau supel pandai menempatkan diri, dan sopan. Apalagi dek Ziko ,adekku yang  bungsu , dia sangat tergantung padamu. Dia bersikap manja ketika kau di rumah.
Kau  selalu membuat hangat suasana ketika kita bersama, kau kadang bercerita tentang gadis-gadismu yang pernah kau taklukan. Dan  sebailiknya aku enggan membicarakan urusan asmara denganmu.  Kau yang tahu kesulitanku ketikas aku harus mengurusi sendir setiap kegiatan di sekolah tempat aku mengajar. Mengajar anak Tk adalah kesenada kebahagiaa tersendiri di anganku, meskipun  honorku tidak seberapa  tapi ada kebahagiaan sendiri di hati . Kau paham itu. Bahkan kau ikut mendukungku, dengan ikut  mengantarku ke manapun aku mau untuk mengurusi segala yang berurusan dengan murid Tkku.
“Kau ini guru apa pesuruh sih?” Tanyamu ketika kau datang ketempatku mengajar.
“Dua-duanya”
“Kok gitu?”
“Di sini gurunya aku saja, jadi aku merangkap kepala sekolah,  dan pesuruh”
“Ya ,mengajukan dong”
“ Ah, kau ini. Ini TK di desa pelosok.ceritanya panjang.” Jawabku  menghentikan keingin tahuanmu. Kau kemudian tahu bahwa Tkku itu rintisan aku sendiri. Di sebuah desa kecil jauh dari kota.
Robin, waktu itu aku selalu memanggilmu  “adik” karena usiaku  2 tahun lebih tua darimu, kau juga  yuniorku di kampus . Meskipun kau sering protes dengan sapaan yang kuberikan. Tapi aku merasa nyaman dengan itu aku mersa lebih santai bersamamu.  Sehingga ketika bertemu teman, atau siapapun yang menayakanmu aku selalu mengatakan “Ini adikku.” Aku tak pernah tahu persaanmu waktu kukatakan seperti itu.  Hanya dalam hatiku aku berharap kau maih punya pintu terbuka untuk siapapun meskipun kau selalu bersamaku. Aku  tak boleh GR .
Ah, Robin ! Lebih dari lima tahun persahabatan kita, kebersamaan kita. Kau telah tahu segala yang ada  dalam hidupku. Kau juga tahu  kelebihan dan kekuranganku.  Perhatianmu  padaku  yang berlebih kadang membuatku berfikir kau tidak hanya sebagai adik. Tapi semua itu kutepis, karena kita memang berikrar untuk menjadi sahabat. Menjadi saudara.  Kemudian ada ketakutan pada diriku, ketergantunganku terlalu besar padamu. Kau berkata, aku idolamu, senyumku yang membuatmu damai. Aku sadar. Bersahabat, bersaudara tidak selalu berakhir di pelaminan. Itu lebih baik agar tetap terjalin silaturrohim sebagai sahabat, sebagai saudara. Kau menganggapku  mbak, dan kuanggap kau adik.
“ Kelak jika kau sudah menemukan gadis pendamping hidupmu. Apa kau akan berubah?’ Kataku suatu sore di rumahku.
“Ya tidaklah” Jawabmu  tidak memandangku, kau masih terus membaca majalah yang sebernanya kau bawakan untukku.
“Ya berubahlah, kau kan punya urusan sendiri dengan dia.”
“Tidak. Tidak akan berubah. Aku tak ingin rumah ini jadi kenangan. Aku damai di sini, di sini menyenangkan.” Jawabmu sambil memandangku tajam.
Tapi tahukah kau? , itu kalimat pancingan buatmu, agar kau mengatakan satu kata untuk hubungan kita ke depan.  Bukankah waktu terus berjalan? Bukankah  hidup perlu kepastian?

Suatu malam ibukku  datang ke kamarku, sambil menutup pintu kamar. Aku tak pernah melihat ibuk seserius itu.
“ Ibuk mau  tanya” Katanya pelan
“Apa  Bu. Kok serius?”
“ Gimana hubunganmu dengan Robin?’
“Hubungan apa?”
“Dia pacarmu?”  Aku terkejut, tak pernah kusangka pertanyaan itu yang disampaikan ibuk.
“ Mengapa ibu tanya gitu?”
“ Karena dia sangat perhatian padamu.”
Aku mengerti maksud Ibu, tapi aku tak boleh  egois dengan jawabanku. Waktu itu aku ingin sekali berlari padamu Robin. Ingin mengajukan pertanyaan yang sama seperti Ibu. “apakah kau anggap aku pacarmu?”  
“Bukan ,Buk. Aku tidak pacaran dengannya. Aku hanya dianggapnya kakak.” Jawabku. Dan ibuk mengangguk. Sambil berfikir sejenak.
“Dia tak pernah mengatakan sesuatu padamu?” lanjut ibuk .Aku langsung menggeleng. Ibuku memang sangat bijaksana. Begitu hati-hati bertanya padaku.
“ Bapakmu tadi menyuruh aku bertanya padamu. Ada anak teman Bapakmu yang menayakan kamu, jadi  dia akan datang ke sini. ”
“Maksud Ibuk? “
“ Dia ingin melamarmu, tapi dia tidak memaksamu. Dia ingin bertemu kamu dulu . Kamu  tanya sendiri. Liat anaknya gimana. Baru ambil keputusan. Begitu pesan bapakmu.”
“Buk....”
“Ini usulan  untukmu. Kalau kau ingin gambaran. Anaknya baik, dari keluarga baik. Dia sudah sarjana dan pegawai negeri . Mengajar di SMA . “  Ibuk menjelaskan dengan bahasa daerah yang kental. Dan ibuk berlalu sambil menutup kembali pintu kamar.
Benar! Keesokan harinya dia datang. Memperkenalkan namanya, pada acara perkenalan itu , dia yang kupanggil Mas Doni itu. Memberi waktu  padaku untuk berfikir tentang maksudnya.
Robin! Adikku Robin. Waktu itu kau yang biasanya sepulang kerja ke rumah, tidak ke rumah lagi.  Hingga aku ke rumahmu dengan kemantapan hati aku akan menerima  pinangan Mas Doni. Tapi ada keraguan di sudut hatiku.  Ada rindu yang berdesir di sudut hati ini. Kuanggap itu desiran rindu  kepada seorang sahabat , seorang adik. Akhirnya sore itu aku datang ke rumahmu. Kau ingat kan Robin ?Waktu itu tanah masih basah karena  habis diguyur hujan. Kau terlihat terkejut  melihatku? Kulihat senyummu cerah sekali.
“Wah, mbak Rin sudah berani datang ke sini sendiri.” Sambutmu dengan  gembira. Kau terlihat senang, karena aku memang jarang ke rumahmu. Itupun selalu ada teman, entah bersamamu, bersama temanku atau dek Ziko.
“Kok gak ke rumah?” tanyaku langsung .
“Sory, aku dapat tugas tambahan dari Bos. Jadi waktuku tersita. Ini rencana nanti mau ke sana”
“ Nggak apa-apa kalau sibuk. Takutnya  kamu sakit.”
“Sehatlah!” Jawabmu sambil mengakat kedua tanganmu, seperti iklan susu yang ada di TV. Aku tertawa  liat tingkamu. Kau memang selalu membuatku tertawa.Kau kadang bertingkah konyol agar kubisa tertawa. Kaupun ikut tertawa Sambil memandangku tajam  Kau pernah bilang bahwa tawaku membuatmu damai. Aku tersanjung dengan itu.
“ Di rumah sehat semua kan?” tanyamu kemudian. Aku mengiyakan . Kemudian kau bercerita tentang tugas tambahamu, tapi kau bumbui dengan kisah konyol yang membuatku kembali tertawa  lepas. Ah , Robin  senangnya bersamamu. Aku kembali yakiin waktu itu bahwa kau akan tetap menjadi adikku, sahabatku dan saudaraku, tanpa harus diracuni dengan kisah asmara yang pelik. Itu lebih baik pikiirku.
“ Ada apa? “ Tanyamu serius,sambil   memandangku lekat. Setelah akun pamit pulang. Aku melihat ada hal yang beda dengan tatapanmu, hatikupun bergejolak. Seperti ada desiran indah. Namun kualihkan semuanya menjadi normal kembali.
“ Gak ada, hanya liat kamu saja” jawabku bohong.
“Bener?”
Aku mengangguk.
“Oh ya, aku bingung  akhir-akhir ini.”
“Bingung kenapa?”
“Usia makin bertambah, mungkin aku harus segera menikah?” Kataku tiba-tiba.
“Dengan siapa?” Tanyamu sambil tertawa.
‘ Dengan siapa saja , yang mau denganku?” Jawabku sambil tertawa pula.
“ Dengaku mau?” Tanyamu lagi masih dengan  tertawa.
“Dengan siapa saja yang mau denganku” Jawabku lagi sambil tertawa.  Sebenarnya  aku  atau mungkin kita sedang bersandiwara. Aku merasa Rasanya ada perbedaan tekanan ketika kau bertanya , “Ada apa?” Pertanyaan dan tatapanmu telah meruntuhkan pertahananku, aku hampir menyerah padamu. Namun ketika  kita tertawa membicarakan pernikahan. Saat itulah kuungkapkan dengan bercanda, dan kau menyambutnya dengan candaan pula. Seperti kita tak pernah membicarakan hal-hal serius. Yang seriuspun kita buat candaan agar kita bisa tertawa bersama.

 (BERSAMBUNG)


ceritanya bagus....jangan lupa sambungannya ya neng
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Sponsored content




PostSubyek: Re: CVL   

Kembali Ke Atas Go down
 
CVL
Kembali Ke Atas 
Halaman 100 dari 100Pilih halaman : Previous  1 ... 51 ... 98, 99, 100

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
CHEVAN LOVERS :: Chevan Lovers :: Silakan teman-teman komentar disini-
Navigasi: