Selamat datang di forum Chevan Lovers, fans Evan Sanders & Chelsea Olivia
 
IndeksIndeks  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 CVL

Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4 ... 51 ... 100  Next
PengirimMessage
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: CVL   Fri 16 Mar 2018 - 7:43

First topic message reminder :

TELAGA KASIH CHEVAN


Berawal dari sinetron Antara Cinta dan Dusta (ACdD), Evan Sanders dan Chelsea Olivia Wijaya dipertemukan. Chemistry Evan Sanders dan Chelsea Olivia (CHEVAN) membius kami. Usia mereka yang terpaut jauh membuat chemistry itu menarik dan unik. Chelsea yang masih belia, bisa mengimbangi Evan yang sudah dewasa, sehingga kami tidak bosan melihat acting mereka yang natural. Setelah disinetron ACdD, mereka dipersatukan lagi di sinetron Cinta Sejati...bagi fans CHEVAN, tentu sampai detik ini masih mengharap Chevan segera bersatu lagi dalam satu project... sambil nunggu Chevan bersatu lagi, yuk fans CHEVAN komen di sini... pasti nunggunya lebih seru!


Twitter Evan Sanders: @evansaders_id

Twitter Chelase Olivia: @chelseaolivia92


instagram Evan Sanders: https://www.instagram.com/iam.evansanders/?hl=id

instagram Chelsea Olivia: https://www.instagram.com/chelseaoliviaa/?hl=id


Terakhir diubah oleh Nila tanggal Thu 8 Nov 2018 - 16:56, total 41 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net

PengirimMessage
Mia

avatar

Posts : 4125
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Mon 26 Mar 2018 - 20:20

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Mia

avatar

Posts : 4125
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Mon 26 Mar 2018 - 20:21

Kuenya horor.... affraid :tertawa:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Mia

avatar

Posts : 4125
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Mon 26 Mar 2018 - 20:28

Persahabatan bukanlah sebuah kesempatan, tapi merupakan tanggung jawab yang manis.
#Khalil Gibran

Apa maksudnya ya??? silakan komen :hahaha:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Mia

avatar

Posts : 4125
Join date : 12.06.14

PostSubyek: Re: CVL   Mon 26 Mar 2018 - 20:30

YANG TERBAIK
OLEH : Mia
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mempunyai waktu untuk menginjakkan kaki di kota kecil ini. Kota angin yang memberiku berjuta kenangan yang manis dan indah. Kota kelahiranku. Kota tempat aku memengukir cita-citaku dan melukis cintaku. Sejak tia tahun lalu aku berada di ngeri Sakura Jepang, di samping aku melanjutkan pendidikan S2 di sana, aku juga bekerja .
“ Dia mantan terindahmu?” tanyaku suatu hari , setelah Givan bercerita tentang pertemuan dengan teman SMAnya.
“ Iya, dia mantanku. Dia masa laluku tapi kau adalah masa depanku”
Aku tersenyum, dia memandangku meyakinkanku. Aku mengangguk. Aku dan Givan beda usia di sudah selesai kuliah , bahkan dia sudah bekerja. Tapi aku masih kelas 3 SMA. Hubungan kami serius tapi santai. Itu kata Givan. Ga perlu takut karena aku masih SMA, givan siap menunggu.
“Ga usah dipikir berat, kamu sekolah aja yang rajin. Aku siap menunggu. Kecuali kalau kamu mau.” Katanya suatu hari.
“Maksudmu?”
“Kalau kamu cepet nikah. Aku sih senang sekali” jawabnya sambil tertawa lebar. Aku ikut tertawa sambil mencubit lengannya.
“sama saja” kataku
Keluarga Givanpun tahu hubunganku dengannya, sebab Givan sering membawaku ke rumahmnya. Diperkenalkan dengan mamanya,adiknya kakaknya dan ayahnya. Kami memang sering bersama. Sehingga kami terlihat akrab. Menurut Givan siapapun yang dekat dengannya, dia akan memperkenalkan pada keluarganya, agar mereka tahu. Sebaliknya dengan keluargakupun Givan sangat dekat. Pertama jadian denganku, Givan sudah ke rumah. Menjemputku sambil izin ke orang tuaku, dan kembali ke rumah dengan permisi. Mwenurut Givan, agar tercipta kepercayaan atara orang tua dan dirinya. Disamping itu, dia merasa dengan cara itu diia menghargai orang yang dicintainya.
Sama halnya dengan Dhinda, mantan Givan yang pernah dia ceritakan. Hubungan merekapun sangat baik hiingga Dhinda menikah. Bahkan sekarang menurut Givan Dhinda seperti saudaranya. Silaturrohim keduanya tetap terjalin indah.
“Saya jemput kamu ya?” Kata givan suatu hari. Waktu itu hari Kamis tapi tanggal merah.
“Mau ke mana?” tanyaku heran.
“ Ke rumah. Dhinda dan keluarganya akan datang. Dia dari Jember jadi mampir. Dia pasti nanyain kamu.ga enak kalau kamu ga ada.”
“Ok!” Jawabku singkat. Aku di jemput pagi sekali. Kulihat mama Givan sudah menyiapkan makanan.
“Alhamdulillah! Kau bisa datang Nak” kata Ibu Givan melihatku datang , sambil memelukku hangat.
“Apa yang bisa kubantu, Ma?”
“ Sudah, duduk manis saja sama Givan sana. Semua sudah selesai kok. “
“Mama senang, Kak Dhinda mau datang? ”
“Iya, sudah kangen. Lama mama tidak ketemu dia. Ketika dia nikah mama juga ga bisa datang karena sakit. Hanya Givan yang datang dan adiknya.”
“Ohh! Kak Dhinda baik ya Ma?”
“ Baik banget, seperti kamu” Kata mama Givan sambil membelai rambutku. Aku memang merasakan kehangatan keluarga Givan. Kedekatan keluarganya dengan Dhinda mantan Givan membuat aku kagum.
Akhirnya Dhinda dan keluarganya datang. Maksudnya Dhinda dan seorang anak yang masih bayi kira-kira berusia 10 bulan datang bersama suaminya, Mas Dafa kata Givan.
“Ini pacarmu, ya Van. Hem... cantik” kata Dhinda sambil menyalamiku. Dan Mama Givan. Dia tersenyum sambiil matanya berkaca-kaca, keduanya berpelukan erat sekali.
“Apa kabar, Ma?”
“Baik, sayang. Maaf Mama ga datang waktu kamu nikah”
“Ga papa, Ma. Mama gimana sudah sehat?”
“Sehat. Tambah sehat, ketika dengar kamu mau mampir” Dhinda tertawa sambil memeluk lagi mama Givan. Kemudian mama Givan menggendong anak Dhinda. Mereka akrab.
“Bunda dan ayahmu gimana kabarnya?”
“ Sehat, ma. Beliau titip salam buat mama”
Aku ikut menyaknsikan keakraban mereka. Aku bersama mamanya Givan, dan Dhinda ada di ruang tengah. Sementara Givan dan suaminya Dhinda ada di ruang tamu. Aebenarnya aku merasa menjadi orang asing di tengah momen kebahagian pertemuan mamanya Givan dan Dhinda. Tapi keterasingaku kadang hilang ketika Dhinda mengajakku ikut dalam obrolah hangat itu. Kadang Givan ke belakang sambil menarik tanganku, seakan mengerti keterasaingnku. Tapi yang bisa kutangkap dari pertemuan sang mantan ini, sama sekali bukan pertemuan mantan tapi pertemuan persahabatan dan persaudaraan yang luar biasa. Bagaimana tidak. Seorang yang telah putus hubungan sebagai kekasih, masih bersilaturohim dengan baik, tanpa ada rasa kebencian. Dan aku bisa melihat bahwa Dhinda memang orang yang luar biasa, dia cantik tapi baik. Itu yang bisa kutangkap dari pertemuanku dengan Dhinda. Hanya dua jam Dhinda di rumah Givan, setelah itu dia pamit. Dhinda memeluk mama Givan, dan aku juga.
“ Jangan lupa Ma, kalau Givan nikah kabarin aku.”
“Iya ,Insayaallah” kata mama sambil tersenyum padaku.
“Kalo mama lupa, adik yang mngabari ya” Kata Dhinda padaku. Aku mengiyangkan, Givan yang di sebelahku juga mengiyakan sambil tertawa. Tangannya memeluk bahuku seakan minta kekuatan padaku. Kami melambaikan tangan ketiika Dhinda dan suaminya pergi.
“Mengapa putus?” Tanyaku pada Givan, di ruang tamu .
“Kalau aku ga putus. Ga akan ketemu kamu” Kata Givan sambil memegang tanganku.
“Apa dia selingkuh? Tapi kayaknya tidak deh. Kak Dhinda itu kyaknya baik banget orangnya.”
‘Dia memang baik.Tapi kamu juga baik” Katanya sambil menatapku. Mungkin dia mengira aku cemburu tapi tidak. Aku hanya ingin tahu mengapa Givan bisa melepas orang sebaik dia.
“Aku tahu. Kamu pasti jawab gitu. Aku hanya ingin tahu saja” Kataku sambil tersenyum.
“ Aku selalu membuatnya menagis dulu. Aku tidak bisa membuatnya selalu senang.Aku bukan laki-laki yang baik.” Dari nada suarnya sepertinya ada tekanan kata penyesalan.
“Dulu aku nakal, jarang pulang. Suka lupa waktu. Dia sudah sering menasihati aku agar aku tidak bergaul dengan orang yang tidak baik. Tapi aku mengabaikannya. Hingga dia mengancamku untuk putus jika aku masih berprilaku buruk. Dan aku tidak berubah”
Givan bercerita dengan dengan sesekali menarik nafas, aku tak berkomentar, hanya mengelus punggungnya .
“Hingga akhirnya kami benar-benar putus. Itu salahku.”
“Kau menyesal?”
“Aku menyesal sekali waktu itu. Tapi kemudaian aku tahu sudah ada yang memubatnya bahagia. Mas Dafa . Dia selalu membuat Dhinda senang. Jadi aku akhirnya berdamai dengan diriku, uyang penting dia bahagia itu cukup bagiku. Aku tidak cocok untuknya.” Jelas Givan, kemudian dia menoleh Padaku “sekarang aku sudah punya kamu, yang ingin kujalanai masa depanku bersamamu
selamanya.”
Siang itu kami kemudian bercengkrama dengan mama Givan, yang sedang bercerita adik Givan. Kehangatan n kembali terasa di rumah itu. Givan selalu membautku lebih bersemangat.
Suatu hari, waktu itu hari Minggu kalau tidak salah. Kami sudah berencana untuk mencetak undangan pernikahan. Tapi setelah sholat subuh Givan telpon
“ May, Mas dafa kecelakaan!” suara Givan gugup. Aku tak mengerti,
“Mas Dafa siapa?”
“Suaminya Dhinda
”Ohhh! Trusss...??”
“ Aku jemput kamu, aku sama mama mau ke sana” Kata Givan, aku tak bisa menolak. Aku ikut ke Surabaya, bersama mamanya Givan. Sebelum sampai ke rumah Dhinda, Givan dapat telepon. Katanya ke Rumah sakit dulu. Di sana sudah ada kakak Givan, keluarganuya Dhinda . Menurut Givan, Dhinda tidak punya saudara , dia anak tunggal sehingga keluarga Givan sudah menganggapa Dhinda sebagai saudaranya. Jadi ketiika Dhinda kesusahan keluarga Givan semua datang ke sana. Aku melihat Dhinda masih manangis, sambil mengendong anaknya. Semua orang yyang hadir terlihat sedih, termasuk Givan, dia seperti sibuk bertelepon, tidak tahu siapa yang ditelepon. Givan bahkan ikut mengurus segala sesuatu yang fi rumah sakit. Sayang Nyawa Mas dafa suami Dhinda tidak bisa terselamatkan.
Dari rumah sakit hingga ke rumah duka kira-kira satu jam. Givan termasuk orang yang sibuk mengurs jenazah Mas dafa. Aku menemani Dhinda bersama mama dan keluargan yang lain. Hingga sore sampai malam setelah tahlil kami pamit pulang. Mama Givan pulang lebih dulu bersama anak pertamanya.
Ada yang membuat aku sangat sedih, ketika dhinda terus menggendong anaknya hingga dia hampir terjatuh. Tubuhnya lemas. Seharian dia tidak mau makan. Kemudian Givan datang , membawa minum dan roti, menyuruhku agar Dhinda mau makan . Tapi Dhinda menolak dan kusampaikan ke Givan, hingga akhirnya yang Givan yang menyuruh. Tapi Dhinda tetap menolak , air matanya terus mengalir.
“Semalam dia bilang, aku harus hati-hati kalau di rumah” isaknya.
Anaknya tetap menenpel di bahu dhinda. Meskipun ada beberapa orang yang mencoba mengantikan tapi anak tersebut tidak mau. Kemudian aku menyuruh Givan untuk mecoba membujuk anak itu. Kasihan liiat Dhinda yang lemah masih terus mengendong. Eh anak itu mau. Dan Givanlah yang kemudaian mengendongnya.
Saat kami pamit, Dhinda kembali menggendong anaknya
“ Sama mama, Om harus pulang” Katanya.
“Kamu yang sabar ya. Jangan nangis.” kata Givan
“Iya, ”
“Jangan nangiis” Sekali lagi Givan, berbicarah lirih. Aku menyaksikan bagaimana Givan menatap wajah Dhinda, seakan ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
“yang sabar, mbak” Kataku.
“Iya terima kasih dek. Terima ksih. Maafkan mas Dafa ya”
“ Dia orang baik, pasti dia diberi tempat terindah. Sekarang yang penting kamu. Harus sabar” Givan menjawab sambil memandang wajah Dhinda dengan sangat dalam. Aku bisa melihat wajah Givan, bagaimana dia begitu khawatir pada Dhinda.
Dhinda mengangguk, sambil airmatanya terus mengalir. Dan anaknya masih di gendongannya”.
“Sana kalu pulang,. Hati –hati” kata Dhinda dengan suara parau. Givan mengusap rambut anak Dhinda. Dan permisi.
Kami meninggalkan rumah Dhinda sekitar jam 8 Malam. Givan banyak diam. “Biar aku yabng nyetir , kamu kayaknuya capek” kataku . Givan tersenyum . dan aku yang mengemudikan hingga sampai rumah. Diperjalanan Givan sempat bicara, seakan pada dirinya sendiri. “ Usia manusia rahasia Allah. Caranyapun , kita tidak tahu.”
“ Iya , tak ada yang abadi di dunia ini”
“Kasiian Dhinda dan anaknya”
“ Kak Dindha orang kuat” kataku, dan Givan diam.
“Aku turun. Kamu hati-hati bawa mobil” Kataku seampainya di rumah.
“ Maaf ya, kita pesan undangannya besok saja “
“Iya gak papa. Gampang itu “ kataku, sambil turun dari mobil.
Tiga hari kemudian aku kembali ke rumah Dhinda bersama Givan. Aku yang mengajaknya, melihat kondisi Dhinda. Tetang undangan aku meminta pada givan ditunda sebualan lagi. Dan tanggalnya bisa dicari lagi. Disesuaikan dengan haria jadian kita. Kataku beralasan. Givan sebenarnya keberatan menunda mencetak undangan itu, tapi karena alasanku mengena akhirnya dia menyerah. Kami mendatangi rumah Dhinda sore hampir magrib. Sehingga Givan masih sempat ikut tahlil. Setelah semua tamu pulang, aku mlihat kelengangan di rumah itu. Anak Dhinda masih tetap digendong. Hingga akhirnya Givan mengantikannya, mengajaknya bermain. Maklum anak Dinda masih sekitar setahun lebih. Ku melihat tawa anak itu.
Dari rumah Dhinda , kami pulang tengah malam. Karena paginya Givan harus bekerja.
“ Ada apa ?” Tantya Givan setelah kubilang ada yang ingin kubicarakan.
“Aku rasa kita harus berpisah “ Kataku , Givan terkejut. Memandangku tapi aku tersenyum. Tetap tersenyum semanis mungkin agar Givan tidak marah.
“Apa maksudmu?”
“ Ada yang lebih membutuhkanmu dari pada aku” Kataku memegang tangannya.
“Kau memang tidak butuh aku, tapi aku butuh kamu”
‘Mari kita buang ego kita. Aku sudah memikirkannya” kataku.
“ Aku masih ingin kuliah mengejar cita-citaku. Sejak dulu aku ingin kuliah di Jepang”lanjutku
“ Berarti kamu ga sungguh-sungguh. Bukankah aku sudah bilang. Aku siap menunggu.”
“ Aku tahu., dan aku tak meragukanmu Aku sayang padamu. Tapi Dhinda, anaknya ,dia lebih membutuhkanmu.” Kataku pelan. Kulihat Givan Diam memandangku.
“ Ketika aku siap menjadi istrimu, mengabaikan cita-citaku. Tuhan mengirim peristiwa ini.”
“ Tapi aku dan Dhinda sudah masa lalu”
“Tanyakan pada hatimu, hati nuranimu. Kamu juga tidak tega ketika melihat Dhinda menanggung kesediahan sendiri. Tidak hanya Dhinda, tapi anaknya. Aku bisa merasakannya. Dia butuh seseorang yang membuatnya lebih kuat menatap ke depan.”
“ Maksudmu ?”
“ Jangan kau menyesal lagi. Dulu kau menyesal karena tak mampu membuatnya bahagia. Sekarang jadikan dia bahagia. Aku rela” Kataku dengan berat, sambil memegang tangannya. Givan memandangku seakan mencari kesungguhan kata-katku. Aku mengangguk pelan.
“Aku ga tega pada mereka. Aku lihat hanya kamu yang bisa membuat Dhinda bahagia lagi. ”

Sejak itu aku menjauh dari Givan, bukan karena aku tidak mencintainya tapi karena aku ingin menyatukan kebali cinta Givan dan Dhinda. Aku merelakan Givan, Dhinda layak mendapatkan Givan lagi. Sejak itu aku menghilang dari kehidupan Givan. Aku Melanjutkan Sekolahku dan mendapat beasiswa ke Jepang sesuai cita-citaku.






Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 27 Mar 2018 - 8:06

Mia wrote:
:tepuktangan: :tepuktangan: Woww...covernya keren  DP. kangmas main iklan ya DP?

kemaren main sinetron karma the series...kalau iklan belum liat neng...emangnya ada ya :senyum:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 27 Mar 2018 - 8:07

Mia wrote:

makasih kiriman kuenya :kedipmata:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 27 Mar 2018 - 8:07

Mia wrote:
Kuenya horor.... affraid :tertawa:

masa sih :smile:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 27 Mar 2018 - 8:08

Mia wrote:
Persahabatan bukanlah sebuah kesempatan, tapi merupakan tanggung jawab yang manis.
#Khalil Gibran

Apa maksudnya ya??? silakan komen :hahaha:

neng Ima mungkin bisa jawab ya
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Tue 27 Mar 2018 - 8:12

[quote="Mia"]
YANG TERBAIK
OLEH : Mia
     Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mempunyai waktu untuk  menginjakkan kaki di  kota kecil ini. Kota angin yang memberiku berjuta kenangan yang manis dan indah.  Kota kelahiranku. Kota tempat aku memengukir cita-citaku dan melukis cintaku. Sejak  tia tahun lalu aku  berada di ngeri Sakura Jepang,  di samping aku melanjutkan pendidikan S2 di sana, aku juga bekerja  .
  “ Dia mantan terindahmu?” tanyaku suatu hari , setelah  Givan  bercerita tentang pertemuan dengan teman SMAnya.
“ Iya, dia mantanku. Dia masa laluku tapi kau adalah masa depanku”
Aku tersenyum, dia memandangku meyakinkanku. Aku mengangguk. Aku  dan Givan  beda usia di sudah selesai kuliah , bahkan dia sudah bekerja. Tapi aku masih kelas 3 SMA.  Hubungan kami serius tapi santai. Itu kata Givan. Ga perlu takut karena aku masih SMA, givan siap menunggu.
“Ga usah dipikir berat, kamu sekolah aja yang rajin. Aku siap menunggu. Kecuali kalau kamu mau.” Katanya suatu hari.
“Maksudmu?”
“Kalau kamu cepet nikah. Aku sih senang sekali” jawabnya sambil tertawa lebar.  Aku ikut tertawa sambil mencubit lengannya.
“sama saja” kataku
    Keluarga Givanpun tahu hubunganku dengannya, sebab Givan sering membawaku ke rumahmnya. Diperkenalkan dengan  mamanya,adiknya kakaknya dan ayahnya. Kami memang sering bersama. Sehingga kami terlihat akrab. Menurut Givan siapapun yang dekat dengannya, dia akan memperkenalkan pada keluarganya, agar  mereka tahu. Sebaliknya dengan keluargakupun Givan sangat dekat. Pertama jadian denganku, Givan sudah ke rumah. Menjemputku sambil izin ke orang tuaku, dan kembali ke rumah dengan permisi. Mwenurut Givan, agar tercipta kepercayaan atara orang tua dan dirinya. Disamping itu, dia merasa dengan cara itu diia menghargai   orang yang dicintainya.
   Sama halnya dengan Dhinda, mantan Givan yang pernah dia ceritakan. Hubungan merekapun sangat baik hiingga Dhinda menikah.   Bahkan sekarang menurut Givan Dhinda seperti saudaranya.  Silaturrohim keduanya tetap terjalin indah.
“Saya jemput kamu ya?” Kata givan suatu hari. Waktu itu hari Kamis tapi tanggal merah.
“Mau ke mana?” tanyaku heran.
“ Ke rumah. Dhinda dan keluarganya akan datang. Dia  dari Jember jadi mampir. Dia pasti nanyain kamu.ga enak kalau kamu ga ada.”
“Ok!” Jawabku singkat. Aku di jemput pagi sekali. Kulihat mama Givan sudah menyiapkan makanan.
“Alhamdulillah! Kau bisa datang Nak” kata Ibu Givan melihatku  datang , sambil memelukku hangat.
“Apa yang bisa kubantu, Ma?”
“ Sudah, duduk manis saja sama Givan sana. Semua sudah selesai kok. “
“Mama senang, Kak Dhinda mau datang? ”
“Iya, sudah kangen. Lama mama tidak ketemu dia. Ketika dia nikah mama juga ga bisa datang karena sakit. Hanya Givan yang datang dan adiknya.”
“Ohh! Kak Dhinda baik ya Ma?”
“ Baik banget, seperti kamu” Kata mama Givan sambil  membelai rambutku.  Aku memang merasakan kehangatan keluarga Givan. Kedekatan keluarganya dengan Dhinda mantan Givan membuat aku kagum.
Akhirnya  Dhinda dan keluarganya datang. Maksudnya Dhinda dan seorang anak yang masih bayi kira-kira berusia 10 bulan  datang bersama suaminya, Mas  Dafa kata Givan.
“Ini pacarmu, ya  Van. Hem... cantik” kata  Dhinda sambil menyalamiku. Dan  Mama Givan. Dia tersenyum sambiil matanya berkaca-kaca, keduanya berpelukan erat sekali.
“Apa kabar, Ma?”
“Baik, sayang. Maaf Mama ga datang waktu kamu  nikah”
“Ga papa, Ma. Mama gimana sudah sehat?”
“Sehat. Tambah sehat, ketika dengar kamu mau mampir” Dhinda tertawa sambil memeluk lagi mama Givan. Kemudian mama Givan menggendong anak Dhinda. Mereka akrab.
“Bunda dan ayahmu gimana kabarnya?”
“ Sehat, ma. Beliau titip salam buat mama”
Aku ikut menyaknsikan keakraban mereka.  Aku bersama mamanya Givan, dan Dhinda ada di ruang tengah. Sementara  Givan dan suaminya Dhinda ada di ruang tamu. Aebenarnya aku  merasa menjadi orang asing di tengah momen  kebahagian pertemuan mamanya Givan dan Dhinda. Tapi keterasingaku kadang hilang ketika Dhinda mengajakku ikut dalam obrolah hangat itu. Kadang Givan ke belakang sambil menarik tanganku, seakan mengerti keterasaingnku. Tapi yang bisa kutangkap dari pertemuan sang mantan  ini, sama sekali bukan pertemuan mantan tapi pertemuan persahabatan dan persaudaraan yang  luar biasa. Bagaimana tidak. Seorang yang telah putus hubungan sebagai kekasih, masih bersilaturohim dengan baik, tanpa ada rasa kebencian. Dan aku bisa melihat bahwa Dhinda memang orang yang luar biasa, dia cantik tapi baik. Itu yang bisa kutangkap dari pertemuanku dengan Dhinda. Hanya dua jam Dhinda di rumah Givan, setelah itu dia pamit. Dhinda memeluk mama Givan, dan aku juga.
“ Jangan lupa Ma, kalau  Givan nikah kabarin aku.”
“Iya ,Insayaallah” kata mama sambil tersenyum padaku.
“Kalo mama lupa, adik yang mngabari ya” Kata Dhinda padaku.  Aku mengiyangkan, Givan yang di sebelahku  juga mengiyakan sambil tertawa. Tangannya memeluk bahuku seakan minta kekuatan padaku.  Kami melambaikan tangan  ketiika Dhinda dan suaminya pergi.
“Mengapa putus?” Tanyaku pada Givan, di ruang tamu .
“Kalau aku ga putus. Ga akan ketemu kamu” Kata Givan sambil memegang tanganku.
“Apa  dia selingkuh? Tapi kayaknya tidak deh. Kak Dhinda itu kyaknya baik banget orangnya.”
‘Dia memang baik.Tapi kamu juga baik” Katanya sambil menatapku. Mungkin  dia mengira aku cemburu tapi tidak. Aku hanya ingin tahu mengapa Givan bisa melepas orang sebaik dia.
“Aku tahu. Kamu pasti jawab gitu. Aku hanya ingin tahu saja” Kataku sambil tersenyum.
“ Aku selalu membuatnya  menagis dulu. Aku tidak bisa membuatnya selalu senang.Aku bukan laki-laki yang baik.” Dari nada suarnya sepertinya ada  tekanan kata  penyesalan.
“Dulu aku nakal, jarang pulang. Suka lupa waktu. Dia sudah sering menasihati aku agar aku tidak bergaul dengan orang yang  tidak baik. Tapi aku mengabaikannya.  Hingga dia mengancamku untuk putus jika aku masih berprilaku buruk. Dan  aku tidak berubah”
Givan bercerita  dengan  dengan sesekali menarik nafas, aku tak berkomentar, hanya mengelus punggungnya .
“Hingga akhirnya  kami benar-benar putus. Itu salahku.”
“Kau menyesal?”  
“Aku menyesal  sekali waktu itu. Tapi  kemudaian aku tahu sudah ada yang memubatnya bahagia. Mas Dafa . Dia selalu membuat Dhinda senang. Jadi aku akhirnya berdamai dengan diriku, uyang penting dia bahagia itu cukup bagiku. Aku tidak cocok untuknya.”  Jelas Givan, kemudian dia menoleh Padaku  “sekarang aku sudah punya kamu, yang ingin kujalanai masa depanku bersamamu
selamanya.”
Siang itu  kami kemudian bercengkrama dengan mama Givan, yang sedang bercerita adik Givan. Kehangatan n kembali terasa  di rumah itu. Givan  selalu membautku lebih bersemangat.
     Suatu hari, waktu itu hari Minggu  kalau tidak salah. Kami sudah berencana untuk mencetak undangan pernikahan.  Tapi setelah  sholat subuh  Givan telpon
“  May,  Mas dafa kecelakaan!” suara Givan gugup. Aku tak mengerti,
“Mas Dafa siapa?”
“Suaminya  Dhinda
”Ohhh! Trusss...??”
“ Aku jemput kamu, aku  sama mama mau ke sana” Kata Givan, aku tak bisa menolak. Aku ikut  ke Surabaya, bersama mamanya Givan. Sebelum sampai ke rumah Dhinda, Givan dapat telepon. Katanya ke Rumah sakit dulu. Di sana sudah ada kakak Givan, keluarganuya Dhinda . Menurut Givan, Dhinda tidak punya saudara , dia anak tunggal sehingga  keluarga Givan sudah menganggapa Dhinda sebagai saudaranya. Jadi ketiika Dhinda kesusahan keluarga Givan semua  datang ke sana. Aku melihat Dhinda  masih manangis, sambil mengendong anaknya.  Semua orang yyang hadir terlihat sedih, termasuk Givan, dia seperti sibuk bertelepon, tidak tahu siapa yang ditelepon.  Givan bahkan ikut mengurus segala sesuatu yang fi rumah sakit. Sayang  Nyawa Mas dafa suami Dhinda tidak bisa terselamatkan.
Dari rumah sakit hingga ke rumah duka kira-kira satu jam. Givan termasuk orang yang sibuk mengurs  jenazah Mas dafa. Aku  menemani  Dhinda bersama mama dan keluargan yang lain. Hingga sore sampai  malam setelah tahlil  kami pamit pulang. Mama Givan pulang lebih dulu bersama anak  pertamanya.
Ada yang membuat aku sangat sedih, ketika dhinda terus menggendong anaknya  hingga dia hampir terjatuh.  Tubuhnya lemas. Seharian dia tidak mau makan. Kemudian Givan datang , membawa minum dan roti, menyuruhku agar Dhinda mau makan . Tapi Dhinda menolak dan kusampaikan ke Givan, hingga akhirnya yang  Givan yang  menyuruh. Tapi Dhinda tetap menolak , air matanya  terus mengalir.
“Semalam dia bilang, aku harus hati-hati kalau  di rumah” isaknya.  
Anaknya tetap menenpel di bahu dhinda. Meskipun ada beberapa orang yang mencoba mengantikan tapi  anak tersebut tidak mau. Kemudian aku menyuruh Givan untuk mecoba membujuk anak itu. Kasihan liiat Dhinda yang lemah masih terus mengendong. Eh anak itu mau. Dan Givanlah yang kemudaian mengendongnya.
Saat kami pamit, Dhinda kembali menggendong anaknya
“ Sama mama, Om harus pulang” Katanya.
“Kamu yang sabar ya. Jangan nangis.” kata Givan
“Iya, ”
“Jangan nangiis” Sekali lagi Givan, berbicarah lirih. Aku menyaksikan bagaimana Givan menatap wajah Dhinda, seakan ikut merasakan kesedihan yang mendalam.  
“yang sabar, mbak” Kataku.
“Iya terima kasih  dek. Terima ksih. Maafkan mas Dafa ya”
“ Dia orang baik, pasti dia diberi tempat terindah. Sekarang yang penting kamu. Harus sabar” Givan menjawab sambil memandang wajah Dhinda dengan sangat dalam. Aku bisa melihat wajah Givan, bagaimana dia begitu khawatir pada Dhinda.
Dhinda mengangguk, sambil  airmatanya terus mengalir. Dan anaknya  masih di gendongannya”.
“Sana kalu pulang,. Hati –hati” kata Dhinda dengan suara parau. Givan mengusap  rambut  anak Dhinda. Dan permisi.
Kami meninggalkan rumah  Dhinda sekitar jam 8 Malam. Givan banyak diam. “Biar aku yabng nyetir , kamu kayaknuya capek” kataku .  Givan tersenyum . dan aku  yang mengemudikan hingga sampai rumah. Diperjalanan Givan sempat bicara, seakan pada dirinya sendiri. “ Usia manusia rahasia Allah. Caranyapun , kita tidak tahu.”
“ Iya , tak ada yang abadi di dunia ini”
“Kasiian  Dhinda dan anaknya”
“ Kak Dindha orang kuat” kataku, dan  Givan diam.
“Aku turun. Kamu hati-hati bawa mobil”  Kataku seampainya di rumah.
“ Maaf ya, kita pesan undangannya besok saja “
“Iya gak papa. Gampang itu “ kataku, sambil turun dari mobil.
Tiga hari kemudian aku kembali ke rumah Dhinda bersama Givan. Aku yang mengajaknya, melihat kondisi Dhinda.  Tetang undangan aku meminta pada givan ditunda  sebualan lagi. Dan tanggalnya bisa dicari lagi. Disesuaikan dengan haria jadian kita. Kataku beralasan. Givan sebenarnya keberatan menunda  mencetak undangan itu, tapi karena alasanku mengena akhirnya  dia menyerah.  Kami mendatangi rumah Dhinda sore hampir magrib. Sehingga Givan masih sempat ikut tahlil. Setelah semua tamu pulang, aku mlihat kelengangan di rumah itu. Anak Dhinda masih tetap digendong. Hingga akhirnya Givan mengantikannya, mengajaknya bermain. Maklum anak Dinda masih sekitar setahun lebih. Ku melihat tawa anak itu.
  Dari rumah Dhinda , kami pulang tengah malam. Karena paginya Givan harus bekerja.  
“ Ada apa ?” Tantya Givan setelah kubilang ada yang ingin kubicarakan.
“Aku  rasa kita harus berpisah “ Kataku , Givan terkejut. Memandangku  tapi aku tersenyum. Tetap tersenyum semanis mungkin agar Givan tidak marah.
“Apa maksudmu?”
“ Ada yang lebih membutuhkanmu dari pada aku” Kataku memegang tangannya.
“Kau memang tidak butuh aku, tapi aku butuh kamu”
‘Mari kita buang ego kita. Aku sudah memikirkannya” kataku.
“ Aku masih ingin kuliah mengejar cita-citaku. Sejak dulu aku ingin kuliah di Jepang”lanjutku
“ Berarti kamu ga sungguh-sungguh. Bukankah aku sudah bilang. Aku siap menunggu.”
“ Aku tahu., dan aku tak meragukanmu Aku sayang padamu. Tapi Dhinda, anaknya ,dia lebih membutuhkanmu.” Kataku  pelan.  Kulihat Givan Diam memandangku.
“  Ketika aku siap menjadi istrimu, mengabaikan cita-citaku. Tuhan mengirim peristiwa ini.”
“ Tapi aku dan Dhinda sudah masa lalu”
“Tanyakan pada hatimu, hati nuranimu. Kamu juga tidak tega ketika melihat Dhinda menanggung kesediahan sendiri. Tidak hanya Dhinda, tapi anaknya. Aku bisa merasakannya. Dia butuh seseorang yang membuatnya lebih kuat menatap ke depan.”
“ Maksudmu ?”
“ Jangan kau menyesal  lagi. Dulu kau menyesal karena tak mampu membuatnya bahagia. Sekarang jadikan dia bahagia. Aku rela” Kataku dengan berat, sambil memegang tangannya. Givan memandangku seakan mencari kesungguhan kata-katku. Aku mengangguk pelan.
“Aku ga tega pada mereka. Aku lihat hanya kamu yang bisa membuat Dhinda bahagia lagi. ”

Sejak itu aku menjauh dari  Givan, bukan karena aku tidak mencintainya tapi karena aku ingin menyatukan kebali cinta Givan dan Dhinda.  Aku merelakan Givan, Dhinda layak mendapatkan Givan lagi.  Sejak itu aku menghilang dari kehidupan Givan. Aku Melanjutkan Sekolahku dan mendapat beasiswa ke Jepang sesuai cita-citaku.

rela berkorban, tidak semua orang bisa begitu...keren ceritanya...makasih ya neng
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Nila
Admin
avatar

Posts : 7234
Join date : 20.05.14

PostSubyek: Re: CVL   Sat 31 Mar 2018 - 7:18

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://chevanlovers.indonesianforum.net
Sponsored content




PostSubyek: Re: CVL   

Kembali Ke Atas Go down
 
CVL
Kembali Ke Atas 
Halaman 3 dari 100Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4 ... 51 ... 100  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
CHEVAN LOVERS :: Chevan Lovers :: Silakan teman-teman komentar disini-
Navigasi: